Jalankan Instruksi Erick Thohir BRI dan BNI Tancap Gas Kembangin Bank Digital

Nasional | rm.id | Published at Kamis, 11 November 2021 - 06:50
Jalankan Instruksi Erick Thohir BRI dan BNI Tancap Gas Kembangin Bank Digital

Bank Rakyat Indonesia (BRI) tancap gas mengembangkan bank digital. Lewat anak usahanya, bank pelat merah itu akan memperkuat kerja sama dengan Google untuk memastikan kenyamanan transaksi nasabahnya.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengamanatkan Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) untuk melakukan transformasi digital. Salah satunya, membentuk bank digital.

Dengan bank digital, akan mendorong pembiayaan yang lebih murah. Ke depannya, banyak bank akan menutup kantor-kantor cabangnya, tegas Erick, Sabtu (2/10).

Ia meminta, BUMN untuk lebih cepat dalam transformasi digital. Jika tidak, maka akan terdisrupsi dengan waktu.

Untuk diketahui, pionir bisnis bank digital di Tanah Air datang dari bank swasta yakni, PT Bank Jago Tbk (ARTO). Bank tersebut diakuisisi oleh bankir Jerry NG dan pendiri Northstar Pacific, Patrick Walujo, dari keluarga Arto Hardy.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah berpendapat, semua bank akan menjadi digital pada waktunya. Di masa depan, konsep bank akan bermuara pada digital.

Nanti tidak ada lagi konsep khusus bank konvensional atau bank digital. Karena semua bank akan bertransformasi menjadi bank digital. Semua bank, ya bank digital. Mau itu bank BUMN atau swasta, ya pasti digital, ucap Piter kepada Rakyat Merdeka , kemarin.

Digitalisasi layanan perbankan, menurut Piter, layaknya bola salju yang terus membesar. Sejumlah indikator menunjukkan betapa kuatnya perubahan terjadi di masyarakat saat ini.

Pola kebutuhan masyarakat saat pandemi Covid-19 turut mempercepat hal ini. Jika bank tidak mampu mengembangkan layanan digital, sudah pasti akan kalah bersaing dan tersingkir. Termasuk bank-bank konvensional yang sudah eksis saat ini.

Menjawab tantangan tersebut, anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT BRI Agroniaga Tbk (BRI Agro) menyatakan siap fokus pada layanan digital. Perseroan pun telah mendapat persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk berubah menjadi PT Bank Raya Indonesia Tbk.

BRI Agro menggunakan jasa Google Cloud sebagai penyedia cloud utamanya. BRI Agro menilai Google Cloud mampu mempercepat platform dan strategi perbankan digital berlisensi penuh.

CEO (Chief Executive Officer) BRI Agro Kaspar Situmorang mengatakan, kolaborasi antara Google dan BRI sudah dibangun sebagai bagian dari transformasi digital BRI volution. BRI Agro sebagai anak perusahaan BRI, melanjutkan perjalanannya menjadi bank digital.

Semoga kami dapat melayani Gig Economy dengan lebih luas lagi di seluruh Indonesia, terang Kaspar dalam keterangan resmi, Jumat (5/11).

Secara khusus, BRI Agro akan bekerja sama dengan Google Cloud dalam beberapa area strategis. Sehingga BRI Agro dapat terhubung dan membangun layanan yang sepenuhnya baru untuk konsumen.

Tumbuh tanpa mengorbankan keamanan dan kepatuhan. Bagi BRI Agro, bergerak dengan kecepatan luar biasa bukan berarti mengorbankan keamanan, tegas Kaspar.

Ia yakin, Google Cloud akan memberi BRI Agro keamanan untuk melindungi data perbankan. Dan, membantu bank digital menjaga kepatuhan terhadap peraturan, pencegahan penipuan, dan keamanan secara menyeluruh.

BNI Akuisisi Bank

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Royke Tumilaar juga mengungkapkan, perseroan sedang bersiap membentuk bank digital. Yakni, dengan mengakuisisi salah satu bank umum kategori usaha (BUKU) I-II dengan minimal modal inti Rp 3 triliun.

Ia menyatakan, BNI percaya, dengan memiliki anak usaha yang fokus sebagai bank digital, akan membawa perusahaan menuju layanan perbankan yang lebih efektif dan tepat sasaran.

Untuk itu, pihaknya telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakuisisi bank tersebut, yang memiliki ekosistem kuat untuk dikembangkan menjadi bank digital.

Kami akan menjalin mitra strategis yang berpengalaman dengan teknologi keuangan, yang menjadi faktor kunci dalam mengelola bank digital, tegas Royke dalam paparan kinerja BNI Kuartal III-2021 secara virtual, Senin (25/10).

Royke belum secara spesifik mengungkap nama bank yang akan diakuisisi. Serta pihak-pihak mana saja yang terkait dalam pembentukan bank digital tersebut.

Mohon maaf belum bisa disampaikan. Ke depan akan kami rinci secara gamblang kepada publik sesuai dengan peraturan pasar modal dan institusi keuangan, jelasnya.

Nantinya, sambung Royke, bank digital akan fokus ke nasabah Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan operational cost yang murah. Alasannya, potensi UKM di dalam negeri, besar.

Selanjutnya untuk alokasi dana pembentukan bank digital ini, dipaparkan Royke, sudah masuk dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) 2021. Termasuk rencana anggaran untuk akuisisi.

Target ideal bank BUKU I atau II, berdasarkan klasifikasi sebelumnya, modal inti tak lebih dari Rp 3 triliun, sebut mantan Bos Bank Mandiri ini.

Ia memastikan, proses akuisisi memiliki valuasi yang wajar. BNI memiliki kecukupan modal yang kuat, untuk melakukan ekspansi secara organik dan anorganik.

Sehingga fundamental BNI akan sangat kuat, kami tidak akan burn money (bakar uang) di bank digital, tutupnya. [DWI]

Artikel Asli