Ketum JBN: Menghormati Jasa Para Pahlawan Bagian Dari Bela Negara

Nasional | rm.id | Published at Kamis, 11 November 2021 - 05:34
Ketum JBN: Menghormati Jasa Para Pahlawan Bagian Dari Bela Negara

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 2021, Jaringan Bela Negara Republik Indonesia (JBN RI) menggelar ziarah dan doa bagi Indonesia.

Dipimpin langsung Ketua Umum Tigor Mulo Horas Sinaga, DPP JBN RI melakukan ziarah ke makam Sunan Kalijaga di Demak, Selasa (9/10).

Petinggi JBN diterima Mbah Wi keturunan Kanjeng Eyang Sunan Kalijaga ke-16. Mbah Wi selaku keturunan Sunan Kalijaga mewakili keluarga besar keturunan Sunan Kalijaga menyambut baik perjalanan spiritual DPP JBN RI yang dinilai memiliki makna nasionalisme tinggi.

Menurut Mbah Wi, sangat jarang ada organisasi masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi pada kearifan lokal dan mengingat dengan baik para leluhur.

Mbah Wi pada kesempatan tersebut juga berpesan kepada JBN untuk menyuarakan aspirasi masyarakat kecil.

Selain itu, pemerintah diminta memperhatikan situs bersejarah seperti makam Sunan Kalijaga yang mana sampai saat ini keluarga belum merasa diperhatikan pemerintah. Bahkan,sekadar untuk perawatan atau pemugaran makam Sunan Kalijaga.

Walau demikian, Mbah Wi masih bersyukur karena masih ada kepedulian dari masyarakat umum yang setiap hari terus berziarah ke Makam Sunan Kalijaga.

Dalam kesempatan itu, Mbah Wi juga mempertanyakan, kenapa para Sunan tidak mendapat gelar pahlawan.

"Kan kalau Para Sunan mendapat gelar pahlawan dari negara, pemerintah akan lebih memperhatikan perawatan makam serta situs-situs terkait peninggalan para Sunan tersebut," harap Mbah Wi.

Ketum JBN Tigor Sinaga mengaku gembira atas penyambutan dari keturunan Sunan Kalijaga. Tigor mendukung Sunan Kalijaga mendapatkan gelar pahlawan karena para wali telah membawa dan menyebarkan agama Islam, khususnya di Pulau Jawa.

"Pengaruh para Sunan juga sangat besar dalam perjuangan menuju kemerdekaan Republik Indonesia. Coba lihat para pahlawan seperti Pangeran Diponogoro, sangat kental sprit ke-Islamannya dalam melakukan perlawan terhadap penjajah Jepang," ujar Tigor.

Semangat para Sunan dan para Kyai dalam membakar semangat juang para santri dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda dan Jepang menurut Tigor harus terus dijaga.

"Kemerdekaan ini tentu ada pengaruh dari para Sunan yang kita kenal dengan sebutan Wali Songo," imbuhnya.

Setelah dari makam Sunan Kalijaga, perjalanan Ziarah dan Doa JBN RI berlanjut ke makam proklamator RI Ir. Soekarno di Blitar 10 November 2021.

Suasana makam Bung Karno yang begitu asri, bagus dan terawat dengan sangat baik. Dia juga mengajak segenap generasi muda untuk selalu mengingat pengorbanan para pahlawan dengan mengisi kemerdekaan dengan prestasi dan semangat juang dalam berbagai bidang sesuai dengan bidang masing-masing.

"Mari kita kerja 3-as dalam mengisi dan membangun di kemerdekaan yang telah diperjuangkan para Pahlawan. 3-S itu adalah Kerja Keras, Kerja Cerdas dan Kerja Ikhlas. Dengan semangat Kerja 3-S secara gotong-royong maka Indonesia akan maju siap menuju Indonesia Unggul pada 100 Kemerdekaan kita nanti, tandas Tigor.

Usai berziarah, DPP JBN berkunjung ke tokoh masyarakat Klaten yang juga pendiri Esemka dan Kiat Motor Haji Sukiyat. Menurut Tigor, inovasi Sukiyat menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia.

"Apa yang dilakukan Pak Sukiyat menjadi inspirasi bangsa dan bagian dari Bela Negara. Saya berharap generasi muda Indonesia tak pernah menyerah untuk berinovasi," bebernya.

Sementara Pak Kiat, sapaan akrab Sukiyat mendorong kaum milenial Indonesia untuk terus berkarya bagi bangsa dan negara.

Sekalipun pak Kiat merupakan penyandang disabilitas, cita-citanya untuk turut berperan membangun bangsa tak pernah surut. Pak Kiat pun berpesan kepada generasi muda untuk selalu mencintai negeri ini.

"Saya selalu sampaikan jangan tanya apa yang kamu dapatkan, kita orang Indonesia hidup di Indonesia kita menghirup udara di Indonesia, minum air dari Indonesia. Apa yang bisa kamu perbuat sekarang untuk bangsamu," pesan Pak Kiat.

Dia meyakini, Indonesia banyak memiliki Sukiyat-sukiyat baru. Hanya saja, tidak begitu muncul. Menurutnya, banyak anak-anak Indonesia yang memiliki inovasi yang mumpuni.

"Namun karena dia belum siap betul, harus perlu pembimbingan makanya tak muncul ke permukaan," ujarnya.

Selain itu, Pak Kiat mengakui keterbatasan pemerintah dalam mendukung inovasi karya anak bangsa. Namun, bukan berarti pemerintah tidak mendorong inovasi anak bangsa bisa bersaing dengan produk-produk negara lain.

Sukiyat mengawali usaha bengkel motor pada 1978. Kini usahanya berkembang menjadi tempat pengecatan mobil dengan sistem oven dan perbaikan bodi mobil. [TIF]

Artikel Asli