Dananya Cekak 12 Proyek Smelter Terancam Mangkrak

Nasional | rm.id | Published at Kamis, 11 November 2021 - 06:40
Dananya Cekak 12 Proyek Smelter Terancam Mangkrak

Proyek pembangunan smelter tak semuanya berjalan mulus. Ada saja hambatan yang ditemui dalam proses pekerjaan. Salah satunya, masalah pendanaan yang cukup besar.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, 12 proyek pembangunan pabrik smelter mengalami paceklik pendanaan.

Adapun kebutuhan dana yang diperlukan untuk pembangunan smelter tersebut mencapai 4,5 miliar dolar AS atau lebih Rp 64 triliun.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengungkapkan, pendanaan merupakan salah satu dari beberapa kendala yang dihadapi proyek-proyek smelter di Indonesia.

Setidaknya ada 12 perusahaan mengalami masalah pendanaan, 8 di antaranya smelter nikel, kata Ridwan saat Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin.

12 perusahaan tersebut adalah Gulf Mangan Group (mangan), Bintang Smelter Indonesia (nikel), Macika Mineral Industri (nikel), Ang Fang Brothers (nikel), Teka Mining Resources (nikel), Mahkota Konaweeha (nikel).

Kemudian, Arta Bumi Sentra Industri (nikel), Sinar Deli Bantaeng (nikel), Dinamika Sejahtera Mandiri (bauksit), Laman Mining (bauksit), Kalbar Bumi Perkasa (bauksit) dan Smelter Nikel Indonesia (nikel).

Menurut Ridwan, kondisi ini diperparah dengan komitmen lembaga keuangan internasional yang tidak lagi memberikan pendanaan untuk proyek pertambangan. Termasuk untuk proyek hilirisasi dalam pembangunan smelter.

Sejumlah bank sudah tidak mau memberikan pendanaan untuk proyek smelter Indonesia. Di antaranya Asian Development Bank, Asian Infrastructure Investment Bank, World Bank dan International Finance Corporation.

Untuk itu, dia berharap perbankan nasional mau memberikan bantuan pendanaan untuk proyek-proyek smelter dengan kapasitas nasional, seperti smelter nikel Indonesia.

Tak cukup sampai di situ. Masalah berikutnya selain pendanaan, kata Ridwan, juga terdapat kendala operasional seperti perizinan terkait Hak Guna Bangunan (HGB), Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) terhadap lima perusahaan.

Kendala lainnya, terkait berupa pasokan energi. Setidaknya terdapat tujuh perusahaan yang masih terkendala soal penyediaan listrik.

Kami terus berupaya mencari solusi untuk dukungan pendanaan. Beberapa yang dilakukan, seperti one on one meeting jika ada kendala pasokan energi, ujarnya.

Untuk diketahui, pemerintah menargetkan pembangunan smelter dapat mencapai 53 unit hingga 2024. Tercatat hingga 2020, jumlah smelter yang telah dibangun mencapai 19 unit.

Sementara, sebanyak empat pabrik smelter akan beroperasi tahun ini. Salah satunya smelter feronikel milik PT Aneka Tambang Tbk di Tanjung Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara.

Tiga lainnya, yakni smelter milik PT Cahaya Modern Metal Industri di Cikande, Serang, Jawa Barat. Lalu, PT SNI di Cilegon, Banten serta PT Kapuas Prima Coal di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Tahun 2024 akan terbangun 30 smelter nikel dengan total rencana investasi lebih 8 miliar dolar AS. Dalam konteks investasi, ini cukup besar nilainya di Indonesia, ucap Ridwan.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia Rizal Kasli mengatakan, proyek smelter menjadi kunci untuk menghentikan ekspor mineral mentah.

Yang menjadi kekhawatiran, bagaimana jika pabrik tersebut belum selesai dibangun ketika pelarangan ekspor barang mentah mulai berlaku pada 2023, ujarnya.

Padahal, kata Rizal, hilirisasi mineral akan memberikan dampak yang signifikan bagi rantai pasok industri mineral, peningkatan devisa, ketahanan nasional dan peningkatan nilai ekonomi. Termasuk berdampak pada penguasaan teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurut Rizal, upaya untuk mempercepat penyelesaian pembangunan pabrik smelter tembaga di Indonesia, perlu untuk difasilitasi. Pemerintah harus mengawal ketat sambil memberi kemudahan dan fasilitas kepada perusahaan yang membangun pabrik tersebut. [KPJ]

Artikel Asli