Demaskulinisasi Wajah Agama (4)

Nasional | rm.id | Published at Kamis, 11 November 2021 - 06:30
Demaskulinisasi Wajah Agama (4)

Sedangkan yang kedua bisa melahirkan sikap permissif dan seberono, karena membayangkan Tuhan Maha Penyayang (al-Rahim) dan Maha Pengampun (al-Gafur). Yang ideal ialah seperti sabda Rasulullah: Berakhlaklah sebagaimana akhlak Tuhan, yaitu kombinasi ideal antara kualitas maskulin dan kualitas feminin, seperti yang dicontohkan Rasulullah sebagai uswah al-hasanah, yang akhlaknya adalah Al-Quran.

Dalam perspektif tasawuf, nama-nama indah Tuhan bukan hanya menunjukkan sifat-sifat Tuhan, tetapi juga menjadi titik masuk ( entry point ) untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya. Setiap orang dapat mengidentifikasikan diri dengan nama-nama tersebut. Seseorang yang pernah berlumuran dosa lalu sadar, dapat menghibur diri dan membangun rasa percaya diri dengan mengidentifikasi diri dengan nama al-Gafur (Maha Pengampun) dan al-Tawwab (Maha Penerima Taubat), sehingga yang bersangkutan tetap bisa eksis kembali dan tidak perlu kehilangan semangat hidup. Bukankah di antara 99 nama itu sifat-sifat kasih Tuhan lebih dominan?

Tuhan bukan hanya memiliki sifat-sifat maskulin ("The Father of God), tetapi juga memiliki, bahkan lebih dominan dengan sifat-sifat feminin (The Mother of God). Ada kecenderungan di dalam masyarakat, sifat-sifat maskulinitas Tuhan lebih ditonjolkan, seperti Tuhan Maha Besar (al-Kabir), Maha Perkasa (al-Aziz), dan Maha Pembalas/Pendendam (al-Muntaqim), bukannya menonjolkan sifat-sifat femininitas-Nya, seperti Tuhan Maha Penyayang (al-Rahm), Maha Lembut (al-Lathif), dan Maha Pemaaf (al-Afuw), sehingga Tuhan lebih menonjol untuk ditakuti dari pada dicintai. Efek psikologis yang muncul karenanya, manusia menyembah dan sekaligus mengidealkan identifikasi diri dengan The Father of God, yang mengambil ciri dominan, kuasa, jauh, dan struggeling , bukannya dengan The Mother of God, yang mengambil ciri berserah diri, kasih, dekat, dan nurturing.

Idealnya, komposisi kualitas maskulin dan feminin menyatu di dalam diri manusia, sebagaimana halnya keutuhan kedua kualitas itu menyatu di dalam Diri Tuhan, seperti tercermin di dalam al-asmaul husna dan sebagaimana juga dipraktekkan Rasulullah SAW. (*)

Artikel Asli