Dihina “Patung Istana” Kiai Ma`ruf Tidak Marah

Nasional | rm.id | Published at Kamis, 11 November 2021 - 00:01
Dihina “Patung Istana” Kiai Ma`ruf Tidak Marah

Wakil Presiden KH Maruf Amin menunjukkan diri sebagai sosok alim yang sabar. Buktinya, mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu tidak marah saat dihina oleh mahasiswa hanya sebagai Patung Istana.

Hinaan itu dibuat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur. Lewat akun Instagramnya, @bemkmunmul , mereka membuat poster bergambar Kiai Maruf. Di bagian atas foto Kiai Maruf ditulis Seruan Aksi. Sedangkan di bagian bawahnya ada tulisan Kaltim Berduka Patung Istana Datang ke Samarinda. Poster itu dibuat ketika Kiai Ma'ruf melakukan kunjungan kerja ke Samarinda, Selasa (2/11).

Selain memuat foto, BEM Universitas Mulawarman juga memasang caption panjang. Isinya, antara lain menyoal 2 tahun kepemimpinan Jokowi-Ma'ruf. Mereka menilai, kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah tidak mampu memberikan rasa aman kepada rakyat Indonesia. Dimulai dari masalah revisi UU Minerba, pengesahan UU Cipta Kerja, pemberantasan korupsi, hingga utang negara yang terus membumbung tinggi.

"Kebijakan yang karut-marut dan cenderung menguntungkan oligarki," bunyi caption postingan tersebut di paragraf akhir.

Unggahan itu langsung viral. Banyak yang mempersoalkan adab para mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi. Hingga tadi malam, unggahan itu sudah dikomentari 11.971 kali.

Pihak Istana Wapres tidak marah dengan sikap BEM Universitas Mulawarman itu. Pihak Istana Wapres hanya meluruskan, Kiai Ma'ruf sudah banyak bekerja. Menurut Juru Bicara Wapres, Masduki Baidlowi, Kiai Maruf selama ini sudah banyak berbuat. Tidak diam saja, seperti patung sebagaimana dituduhkan.

"Wapres sudah jungkir balik ke sana kemari," ucap pria yang akrab disapa Cak Duki itu, seperti dikutip CNN Indonesia , kemarin.

Ia menyebutkan, kerja-kerja Wapres dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat hingga melakukan kunjungan kerja sampai ke wilayah Indonesia bagian timur belum lama ini. Seperti ke Papua, Maluku, NTT, dan daerah lainnya. "Kritik itu bukan kritik yang pas," sambungnya.

Meskipun Wapres tidak mengutarakan amarahnya, Presiden BEM KM Universitas Mulawarman Abdul Muhammad Rachim mengaku dipanggil polisi terkait postingan itu, Senin (8/11). Ia diperiksa atas dugaan pencemaran nama baik. Tapi, panggilan polisi itu kabarnya tidak dipenuhi. Lalu diundur ke Jumat (12/11) atau Senin (15/11) mendatang.

Abdul membantah jika unggahan BEM Universitas Mulawarman itu bermaksud menghina Kiai Ma'ruf secara individu. Diksi Patung Istana itu dipakai untuk mengkritik kinerja Wapres yang kurang dirasakan selama 2 tahun berkuasa. Sementara diksi 'Kaltim Berduka' dimaksudkan untuk menyampaikan bahwa kasus lubang bekas tambang emas yang menelan 40 korban jiwa itu belum tuntas. "Lubang bekas tambang segera diselesaikan," harapnya.

Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Andika Dharma Sena mengatakan, pemanggilan Presiden BEM Universitas Mulawarman itu hanya bertujuan untuk meminta klarifikasi. "Kami hanya ingin tahu alasan mereka membuat postingan seperti itu," ujar Kompol Andika seperti dilansir TribunKaltim.co , kemarin. [SAR]

Artikel Asli