Loading...
Loading…
Ekonomi Kuartal III Tumbuh 3,5 Persen Pemerintah Tetap Happy

Ekonomi Kuartal III Tumbuh 3,5 Persen Pemerintah Tetap Happy

Nasional | rm.id | Sabtu, 06 November 2021 - 08:10

Pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2021 tidak meroket tajam dibanding kuartal kedua sebelumnya. Pada kuartal sekarang, ekonomi tumbuh 3,5 persen, masih di bawah target yang ditetapkan pemerintah. Namun, Kementerian Keuangan yang digawangi Sri Mulyani masih tetap happy. Meskipun melambat, ekonomi masih berada di zona positif.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono memaparkan sejumlah alasan kenapa ekonomi kuartal ketiga melambat dibanding kuartal sebelumnya. Kata dia, perlambatan ini terjadi karena hantaman Covid-19 terutama varian Delta pada Juli dan Agustus lalu. Saat itu, pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1 sampai 4.

Pelaksanaan PPKM ini membatasi masyarakat dari aktivitas di luar rumah. Akibatnya, kegiatan ekonomi, baik UMKM maupun skala besar, menjadi terganggu. Begitupun dengan mobilitas masyarakat antar kota dan luar negeri.

Untungnya, penurunan itu tak terlalu dalam. Ekonomi masih bisa tumbuh karena dibantu kinerja ekspor yang melesat. Pertumbuhan ini ditopang membaiknya harga komoditas di pasar global seperti batu bara, minyak kelapa sawit, nikel, tembaga, besi, baja dan lain sebagainya. Selain itu, permintaan komoditas di pasar internasional sudah kembali pulih seiring membaiknya ekonomi negara mitra utama dagang Indonesia.

"Perdagangan Internasional mendominasi pertumbuhan ekonomi kalau dilihat pengeluaran. Jadi net ekspor menopang pertumbuhan kuartal ketiga," kata Margo, dalam konferensi pers, kemarin.

Konsumsi rumah tangga di kuartal III-2021 ini hanya tumbuh 1,03 persen. Sementara konsumsi pemerintah 0,66 persen, dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 3,74 persen. PMTB tumbuh tinggi, ini karena realisasi belanja modal pada kuartal III-2021 masih tumbuh 32,45 persen dibandingkan tahun lalu.

Pertumbuhan ekonomi 3,51 persen ini masih meleset dari yang ditargetkan pemerintah. Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya menargetkan pertumbuhan kuartal ketiga sebesar 4,5 persen. Sementara Bank Indonesia menetapkan target yang lebih optimis, yaitu 5 persen.

Apa tanggapan Kemenkeu? Meski target tak terealisasi, Kementerian Keuangan bersyukur dengan pencapaian ini. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio N Kacaribu optimis pertumbuhan kuartal IV-2021 nanti bisa lebih tinggi dari kuartal ketiga. Soalnya aktivitas ekonomi sudah mulai pulih seiring kondisi pandemi yang relatif terjaga dan percepatan pelaksanaan vaksinasi.

Febrio mengatakan, optimisme itu didasarkan pada tren pergerakan berbagai indikator dini. Seperti indeks mobilitas masyarakat dan indeks belanja masyarakat yang sudah kembali di atas level pra pandemi sejak September 2021.

"Pemerintah akan tetap menjaga momentum pertumbuhan ini, salah satunya dengan mengakselerasi implementasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Khususnya, dalam menciptakan tenaga kerja dan merangsang aktivitas dunia usaha yang terdampak," kata Febrio, dalam keterangan tertulis, kemarin.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto juga menyampaikan rasa syukur atas pencapaian ini. Kata dia, respons cepat pemerintah dalam mengendalikan lonjakan kasus varian delta pada awal kuartal III-2021 dapat memperkuat kembali momentum pemulihan ekonomi nasional.

Pulihnya kepercayaan masyarakat secara cepat dalam melakukan aktivitas ekonomi, menjadikan momentum pemulihan di sisi demand dan supply tetap terjaga.

"Efektivitas penerapan kebijakan PPKM dan akselerasi vaksinasi menjadi penopang utamanya," kata Airlangga, dalam keterangan tertulis kemarin.

Bagaimana tanggapan pengusaha? Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, meski melambat, pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga masih sesuai dengan harapan pengusaha. Soalnya, sejumlah daerah menerapkan PPKM pada Juli dan Agustus. Untunglah, kata dia, harga komoditas membaik sehingga mampu menopang pertumbuhan.

"Kinerja ekonomi kuartal ketiga tertolong oleh ekspor. Kalau ekspor tidak jalan, mungkin tidak seperti itu. Di tengah kondisi logistik global, ekspor kita masih menjadi tumpuan," kata Hariyadi.

Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad menyoroti pelemahan yang terjadi pada konsumsi domestik yang hanya tumbuh 1,03 persen, atau lebih rendah daripada kuartal II-2021 yang tumbuh 5,96 persen. Rendahnya konsumsi rumah tangga di kuartal III-2021 ini, tidak lepas dari kondisi keuangan yang babak belur dihajar varian Delta.

Menurutnya, bansos yang digelontorkan pemerintah kepada masyarakat terdampak PPKM, harusnya bisa mendongkrak tingkat konsumsi rumah tangga. Artinya, ketika konsumsi rumah tangga rendah, padahal bansos sudah disebar, maka ada yang perlu dievaluasi.

Karena pada proses kemarin agak relatif terlambat diterima dan ada pengurangan dari target sasaran, sehingga tidak cukup membantu, kata dia dalam konferensi pers virtual, kemarin.

Di kuartal IV-2021, Tauhid memprediksi, pertumbuhan ekonomi juga tidak akan naik drastis. Prediksinya, ekonomi akan tumbuh di kisaran 3-4 persen, tapi lebih tinggi dari kuartal III-2021.

Melambatnya ekonomi di kuartal IV-2021, kata dia, masih terkait dengan kebijakan PPKM yang masih diberlakukan hingga sekarang. Meskipun sudah banyak pelonggaran seiring menurunnya level PPKM, namun mobilitas masyarakat masih belum sepenuhnya pulih.

"Di pengujung tahun, pemerintah masih membatasi ketat mobilitas masyarakat. Ini akan berpengaruh pada konsumsi masyarakat," pungkasnya. [BCG]

Original Source

Topik Menarik