Selesaikan Polemik GLOW, Serap Aspirasi Budayawan

republika | Nasional | Published at Jumat, 15 Oktober 2021 - 00:02
Selesaikan Polemik GLOW, Serap Aspirasi Budayawan

REPUBLIKA.CO.ID,BOGOR -- Sempat dikritisi oleh lima mantan Kepala Kebun Raya, kali ini atraksi malam GLOW di Kebun Raya Bogor (KRB) turut ditolak oleh budayawan Kota Bogor. Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menginisiasi pembentukan tim kecil, untuk mengakomodasi aspirasi budayawan yang menolak GLOW.

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim menuturkan, ada beberapa hal yang disampaikan dalam aksi penolakan GLOW kepada pihak yang berwenang, khususnya pengelola KRB sendiri. Nantinya, tim dari Pemkot Bogor akan menampung permintaan dari pada budayawan kepada pihak KRB.

Kita sifatnya menjembatani aspirasi. Akan dibuat sebuah tim atau kepanitiaan, nantinya akan kita akomodasi untuk menampung lebih konkret lebih detail apa-apa saja pokok-pokok pikiran yang harus kita sampaikan kepada pengelola, ujar Dedie usai menemui para pengunjuk rasa di Balai Kota Bogor, Rabu (13/10).

Dedie berharap, dibentuknya tim tersebut bisa mengakomodasi pokok permasalahan dan hal yang menjadi keberatan. Sebab, jika berlarut-larut menurutnya bisa ditunggangi dan menjadi kontraproduktif.

Di sisi lain, Dedie pun menilai, keberadaan KRB untuk Pemkot Bogor tentunya menguntungkan sebagai penerima manfaat. Hanya saja, memang ada hal-hal yang perlu dikomunikasikan lebih kepada masyarakat terkait perubahan KRB. Lantaran KRB juga milik masyarakat banyak.

Sementara, salah satu budayawan yang menolak aktrasi glow, Cecep Thorik mengapresiasi usulan Wakil Wali Kota Bogor untuk membuat tim kecil. Hanya saja, ketika tim kecil bekerja, KRB menjadi status quo sehingga tidak boleh ada kegiatan lampu-lampu pada malam hari, katanya.

Cecep menyebut, aksi penolakan itu diinisiasi budayawan dari Cirebon, Banten, dan tokoh-tokoh di Bogor. Adapun tuntutannya, dari para pengunjuk rasa meminta agar atraksi malam GLOW tidak dilakukan. Lantaran bisa merusak ekosistem di KRB yang merupakan marwah konservasi.

Artikel Asli