BPOM Temukan Bahan Kimia di 53 Jenis Obat Tradisional

limapagi.id | Nasional | Published at Kamis, 14 Oktober 2021 - 05:40
BPOM Temukan Bahan Kimia di 53 Jenis Obat Tradisional

LIMAPAGI - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali menemukan produk obat tradisional, suplemen kesehatan dan kosmetik yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO). Bahan tersebut merupakan bahan terlarang karena berbahaya bagi kesehatan.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM, Reri Indriani mengatakan temuan itu didapatkan dari hasil sampling dan pengujian yang dilakukan selama periode Juli 2020 hingga September 2021.

"Badan POM menemukan sebanyak 53 item produk obat tradisional, 1 item suplemen kesehatan mengandung BKO serta 18 item produk kosmetika mengandung bahan dilarang/bahan berbahaya," ujar Reri dikutip Limapagi dari laman BPOM, Kamis 14 Oktober 2021.

Reri menjelaskan BPOM menemukan kecenderungan baru BKO pada produk obat tradisional, yakni BKO jenis Efedrin dan Pseudoefedrin.

Obat tradisional yang mengandung Efedrin dan Pseudoefedrin berisiko dapat menimbulkan gangguan kesehatan, yaitu pusing, sakit kepala, mual, gugup, tremor, kehilangan nafsu makan, iritasi lambung, sesak dada hingga membuat sulit buang air kecil.

Modus penambahan BKO berupa Efedrin dan Pseudoefedrin ini dapat digunakan secara tidak tepat dalam penyembuhan COVID-19," ujar Reri.

Diketahui Efedrin dan Pseudoefedrin juga terdapat secara alami pada tanaman, yaitu merupakan bahan aktif dari tanaman Ephedra sinica atau Ma Huang.

Menurut Reri, penggunaan Ephedra sinica pada obat tradisional digunakan secara tidak tepat dalam pencegahan dan penyembuhan COVID-19.

Ephedra sinica merupakan salah satu bahan dilarang dalam Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan sesuai Peraturan Kepala Badan POM Nomor HK.00.05.41.1384 Tahun 2005 dan Peraturan Badan POM Nomor 11 tahun 2020

"Berdasarkan hasil kajian yang melibatkan para ahli dan beberapa asosiasi profesi kesehatan, produk obat tradisional yang mengandung Ephedra sinica tersebut tidak menahan laju keparahan, tidak menurunkan angka kematian dan tidak mempercepat konversi swab test menjadi negatif. Penggunaan Efedra malah dapat membahayakan kesehatan, yaitu mempengaruhi sistem kardiovaskuler, bahkan dapat menyebabkan kematian," ujar Reri.

Artikel Asli