Cara SDN 1 Ketintang Melatih Mental Siswa di Panggung Keberanian

jawapos | Nasional | Published at Kamis, 14 Oktober 2021 - 07:48
Cara SDN 1 Ketintang Melatih Mental Siswa di Panggung Keberanian

Panggung keberanian dibuat tidak hanya untuk mewadahi bakat siswa SDN 1 Ketintang yang terpendam. Tetapi, juga melatih agar anak tidak minder. Termasuk belajar mengkritisi sekolah. Setelah dibekap pandemi, kini panggung aktif lagi.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

SEKILAS tidak ada yang berbeda di tenda semipermanen ukuran 34 meter itu. Hanya, bentuknya lebih tinggi. Beberapa bunga diletakkan di depan. Tujuannya sebagai pemanis. Begitu pula bagian belakangnya. Hanya ada anyaman dari bambu yang digunakan sebagai penutupnya.

Lukisan di anyaman berupa tarian remo, siswa berpidato, hingga kepala SDN 1 Ketintang bermain gitar seakan memberi semangat. Tempat itu diistilahkan sebagai panggung keberanian.

Siapa saja yang naik, nyalinya langsung bertambah. Sekalipun awalnya adalah siswa yang pemalu. Setahun lebih aktivitas di panggung keberanian ditiadakan. Penyebabnya tak lain pandemi Covid-19. Para siswa pun harus belajar dari rumah.

Kondisi itu jauh berbeda saat 2019. Panggung tersebut selalu ramai. Siswa pun mengantre untuk tampil. Semuanya antusias, sesuai misi dan slogannya. Yakni, Will Power, Active, New Inspirational (Wani).

Panggung keberanian dibuat bukan tanpa alasan. Semua didasari masalah yang kerap terjadi di sekolah. Yakni, menyeimbangkan semua aspek kemampuan siswa.

Bukan hanya soal akademik. Melainkan juga aspek nonakademik. Termasuk memberikan apresiasi bagi murid yang memiliki bakat di luar akademik.

Kepala SDN 1 Ketintang Agus Widodo mengungkapkan bahwa dirinya tak ingin muridnya tertekan soal akademik. Bukan berarti akademik tidak penting ya, ucapnya.

Menurut dia, banyak wali murid yang memaksakan anaknya untuk menguasai semua mata pelajaran. Saking ambisinya, anak sampai tertekan. Cara itu tentunya kurang baik. Sebab, anak pasti memiliki keunggulan yang berbeda-beda. Misalnya, pandai di eksakta atau di ilmu sosial. Atau, bisa jadi justru unggul di kemampuan bakatnya.

Awal 2019, panggung keberanian didirikan. Fungsinya tidak hanya mewadahi bakat siswa. Tapi, juga melatih anak-anak yang minder atau pemalu untuk lebih percaya diri.

Menurut Agus, ada juga murid yang pintar, tetapi minder dan malu saat tampil. Nah, panggung tersebut dibuat untuk menyeimbangkan itu.

Meski baru didirikan pada 2019, hasilnya sudah terlihat. Siswa yang dulu pemalu kini mulai aktif. Mereka sering bertanya kapan gilirannya tampil. Sistem giliran dibuat untuk meramaikan panggung keberanian. Setiap wali kelas harus siap menerjunkan siswanya untuk tampil, tentang apa pun itu. Misalnya, menari, pidato, bernyanyi, membaca puisi, hingga sekadar naik ke panggung. Apa pun dibolehkan asalkan sopan dan melatih keberanian.

Sebelum pandemi, aksi anak-anak di panggung keberanian dilakukan pada jam istirahat. Waktunya kurang dari 15 menit. Setiap pertunjukan biasanya dipenuhi banyak siswa. Sayangnya, belum setahun pandemi Covid-19 melanda. Pembelajaran online pun diterapkan. Panggung yang dulu ramai kini sepi.

Agus tidak hanya mendirikan panggung keberanian. Dia juga menyediakan ruang aspirasi. Sebuah tempat bagi siswa untuk memberikan masukan hingga kritik. Termasuk soal aturan atau usulan tentang sekolah.

Artikel Asli