Energi Terbarukan Dan Lumbung Pangan Jadi Andalan Investasi Di Kaltara

rm.id | Nasional | Published at Kamis, 14 Oktober 2021 - 07:26
Energi Terbarukan Dan Lumbung Pangan Jadi Andalan Investasi Di Kaltara

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) terus membuka diri bagi para investor. Sejumlah sektor terus dibuka bagi para pebisnis. Namun yang menjadi andalan ada di tiga sektor. Pemprov Kaltara menyelenggarakan Investment Forum Kalimantan Utara, Rabu (13/11). Gelaran acara dilakukan secara daring, webinar yang dikombinasikan dengan talkshow.

Merujuk laporan Bank Indonesia Agustus lalu, ekonomi Kaltara pada triwulan II 2021 tumbuh 5,81 persen. Hal ini didukung akselerasi kinerja seluruh lapangan usaha utama. Seperti pertambangan, perdagangan, dan konstruksi. Dari sisi pengeluaran, peningkatan ekonomi Kaltara di triwulan II 2021 ditopang baiknya kinerja ekspor, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), dan konsumsi rumah tangga.

"Provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini memiliki potensi kekayaan sumber daya alam. Utamanya adalah minyak bumi, gas alam dan batu bara. Dan yang pasti energi baru terbarukan," tutur Gubernur Kaltara H Zainal A Paliwang.

Dari 17 sektor, Zainal menyebut pertambangan dan penggalian merupakan penopang utama ekonomi. Kemudian sektor pertanian, kehutanan, perikanan, konstruksi, perdagangan, dan industri pengolahan. Dengan potensi seperti ini, Kaltara tengah bersolek untuk menarik investor.

Pertimbangan lainnya, kenapa Kaltara membuka diri untuk investasi adalah data Kementerian Investasi/BKPM. Total realisasi investasi di semester I 2021 mencapai Rp 442,8 triliun. Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 228,5 triliun atau 51,6 persen dari total realisasi investasi; dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 214,3 triliun atau 48,4 persen dari total realisasi.

Zainal menganggap, data tersebut menandakan tumbuhnya kepercayaan investor global terhadap iklim investasi serta potensi ekonomi Indonesia. Ada banyak peluang yang dibuka Kaltara untuk investasi.

Namun ada tiga sektor andalan. Pertama, Energi Baru Terbarukan (EBT). Pada Rncana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021-2026 pengembangan EBT menjadi salah satu prioritas, khususnya energi air ( Hydro Energy ). Sumber energi lain yang potensinya bisa diperbesar adalah panas bumi (Geo Thermal), sinar matahari (Solar Cell), dan Energi Hayati (Bio Fuel).

Pemerintah Kaltara telah memetakan potensi pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber daya air.

"Di antaranya Sungai Mentarang, Sungai Kayan, dan beberapa lainnya," kata Zainal.

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air(PLTA), salah satunya di Sungai Kayan yang bisa menghasilkan 9 ribu Mega Watt (MW), serta Sungai Mentarang dengan kapasitas 1.375 MW. Total potensi Hydropower di Kaltara sebesar 21.955 MW, sejalan dengan pengembangan kebutuhan industri, termasuk industri pengolahan hasil pertanian, dan untuk suplai Kawasan KIPI Tanah Kuning-Mangkupadi serta suplai Ibu Kota Negara.

Pembangunan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning-Mangkupadi yang berkonsep zona ekonomi ramah lingkungan ( Green Industrial Park ) seluas 10.100 hektare dan pembangun industri pariwisata menjadi salah satu pendorong perekonomian di Kaltara.

Secara keseluruhan, wilayah Kaltara adalah salah satu paru-paru dunia. Karena itu daerah ini memulai pengembangan sumber ekonomi dengan pertimbangan konsep green economy , green technology , dan green product, s ebagai sektor yang sangat potensial.

"Pariwisata dikembangkan dari pengembangan dan penataan desa wisata serta menjaga kelestarian alam melalui Heart of Borneo (HoB) yang mengedepankan kearifan lokal," kata Zainal.

Potensi ketiga, pengembangan lumbung pangan atau food estate di Kabupaten Bulungan. Program ini sangat penting, mengingat pada 2045 ibu kota negara akan pindah ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, sehingga Kaltara masuk sebagai daerah penyangga pangan untuk sejumlah komoditi, seperti padi organik, cabe dan bawang merah.

Ini sudah tertuang dalam dokumen arah kebijakan, strategi dan program pembangunan pertanian 2020-2024 milik Kementerian Pertanian. Program pembangunan kawasan lumbung pangan terpadu di Kabupaten Bulungan dengan enam titik area seluas 41.143 hektare yang dikembangkan disebut sebagai terbesar ke dua di Indonesia setelah Sumatera Selatan yang seluas 113 ribu hektare.

Pembangunan dan pengembangan potensi ekonomi dilakukan dengan terbuka kepada kerjasama PMDN atau PMA. Pemprov Kaltara mengacu para peraturan pemerintah pusat, menciptakan iklim semakin baik untuk berinvestasi langsung serta tetap menjaga lingkungan dan hidup masyarakat.

Kompleksitas berusaha dan bisnis seperti dukungan akses pasar juga menjadi perhatian pemerintah. Pada 2020, Kaltara mencatat nilai investasi Rp 5,6 triliun.

"Tahun 2021 ini nilai investasi yang masuk pada semester I sudah lebih Rp 2 triliun," kata Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro Kementrian Investasi/BKPM Indra Darmawan.

Salah satu daerah potensialnya adalah wilayah Bulungan yang menjadi motor penggerak ekonomi di Kaltara Analis Kebijakan Ahli Madya, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan Rahadian Zulfadin menjelaskan, dalam menyiapkan daerah berpotensi investasi, harus didukung feability study dan dijalankan oleh SDM yang kompeten.

Menurut Rahadian, selain potensi sumber daya alam, bidang teknologi informasi dan komunikasi juga mesti diperhitungkan. Karena era digital akan menentukan bagaimana masyarakat mampu beradaptasi dengan new normal di masa depan. Pemerintah harus menyongsong era kehidupan baru tersebut. [ MEN ]

Artikel Asli