Langkah-langkah Menuju 2024

rm.id | Nasional | Published at Kamis, 14 Oktober 2021 - 07:07
Langkah-langkah Menuju 2024

Pandemi belum sepenuhnya berlalu, Pilpres 2024 seperti sudah di depan mata. Semua gerakan dikaitkan dengan 2024. Isu-isu berbau 2024 sudah marak. Ramai.

Jadwal Pemilu misalnya, belum juga ada kesepakatan. KPU mengusulkan pemungutan suara pada 21 Februari 2024. Sedangkan pemerintah maunya 15 Mei 2024.

Semua tentu punya hitung-hitungan untung rugi. Matang. Ada kepentingan masing-masing. Tidak mungkin kosongan.

Jadwal pemilu belum kelar, sudah diramaikan isu baru. Ketua Panitia Seleksi KPU dan Bawaslu yang baru terpilih, Juri Ardiantoro dipertanyakan karena statusnya sebagai mantan timses Jokowi.

Pemilihan yang juga ramai adalah bursa calon Ketua Umum PBNU. Ada dua nama terkuat: Said Aqil Siradj, petahana, dan Yahya Cholil Staquf, kakak dari Menteri Agama sekarang.

Ada yang ingin regenerasi, artinya mengganti Said Aqil yang sudah menjabat selama dua periode, sejak 2010. Ada juga yang ingin mempertahankan Kiai Said. Kedua kubu sedang menggalang dukungan. Keduanya sama kuat.

Kursi Ketua Umum PBNU penting dalam pertarungan 2024. NU struktural dan kultural bisa menentukan pemenang Pilpres. Siapa ketua PBNU mendatang, salah satu faktor penentunya yakni dengan melihat arah lirikan Presiden Jokowi.

Jalur 2024 juga diwarnai dinamika internal partai politik. Di PDIP sedang berlangsung adu kuat antara pendukung Ganjar Pranowo dengan Puan Maharani. Akibatnya, muncul istilah Banteng vs Celeng. Pendukung Ganjar dituding sebagai celeng.

Puan unggul di struktural, kepengurusan PDIP, Ganjar unggul di kultural, akar rumput. Di survei, Ganjar juga unggul. Puan terus mengejar.

Ada yang memprediksi, pada akhirnya nanti, PDIP akan memilih Ganjar. Ini berdasarkan pengalaman saat Jokowi maju Pilkada DKI Jakarta yang awalnya kurang didukung.

Tapi, saat ini beda. Karena, ada faktor anak ideologis dan biologis. Beda konteks dengan Jokowi dulu.

Tarik menarik juga terjadi di Partai Demokrat. Kubu Moeldoko terus menggoyang kenyamanan kubu AHY-SBY. Kedua kubu bertarung di pengadilan. Moeldoko diwakili Yusril Ihza Mahendra, kubu AHY-SBY diwakili Hamdan Zoelva. Keduanya suhu. Jagoan.

Melihat kekisruhan ini, Waketum Partai Demokrat Benny K Harman menyebut ada kekuasaan tersembunyi yang ingin menyingkirkan Ketum PD Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Pilpres 2024.

Seberapa besar sebenarnya kekuatan AHY? Dia selalu masuk radar, tapi belum terlalu kuat. Sepertinya, AHY cukup kuat untuk posisi wapres. Posisi teratas masih Prabowo, Anies, Ganjar dan Ridwan Kamil. Di bawahnya ada Puan, Airlangga, Sandiaga Uno, Erick Thohir atau Risma dan beberapa lagi lainnya.

Siapa pemenangnya? Politik Indonesia kadang ditentukan hal-hal kecil dan tak terduga. Di menit-menit terakhir. Seperti pilpres 2019 lalu, ketika Prabowo memilih Sandiaga Uno, teman satu partainya. Atau, ketika Jokowi memilih Maruf Amin, bukan Mahfud MD. (*)

Artikel Asli