Tiga Hal Ini Buat Prabowo Sulit Terpilih Jika Ngotot Nyapres

republika | Nasional | Published at Kamis, 14 Oktober 2021 - 05:05
Tiga Hal Ini Buat Prabowo Sulit Terpilih Jika Ngotot Nyapres

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby, menilai, sebagai Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto masih memiliki peluang besar dicalonkan sebagai presiden di Pilpres 2024. Terlebih, Gerindra adalah partai yang hanya butuh koalisi dengan satu partai saja untuk bisa mengusung sendiri capres.

"Dan sejauh ini hanya satu nama yang bergaung di internal Gerindra yaitu Prabowo," kata Adjie saat dikonfirmasi Republika.co.id , Rabu (13/10).

Prabowo, lanjutnya, masih punya peluang di 2024. Apalagi, tak ada pejawat atau incumbent di Pilpres 2024 nanti. Dalam semua survei capres, Prabowo juga masih bertengger di posisi puncak elektabilitas. Meski, elektabilitas Prabowo di semua survei sudah merosot jauh dari perolehan suaranya di pilpres 2019.

Namun demikian, ada tiga faktor yang bisa menyulitkan peluang Prabowo. Pertama, Prabowo berpotensi berhadapan dengan tokoh-tokoh yang lebih muda, yang saat ini mulai bersinar dan punya rekam jejak baik.

"Seperti Anies, Ganjar dan RK (Ridwan Kamil). Sementara Prabowo masih mungkin menghadapi isu lamanya yang selalu datang di era pilpres, yaitu isu HAM. Tokoh-tokoh yang lebih muda ini juga lebih populer di media sosial, yang saat ini maupun nanti di 2024, menjadi medium vital dalam kampanye pilpres," tuturnya.

Kedua, pemilih lama Prabowo di 2019, sulit balik kandang lagi ke Prabowo. Karena umumnya pemilih Prabowo di 2019, adalah pemilh muslim yang kecewa terhadap pemerintahan Jokowi sebelumnya. "Namun Prabowo akhirnya bergabung ke dalam pemerintahan Jokowi setelah kalah. Mereka merasa 'dikhianati' Prabowo," ujarnya.

Sementara di sisi lain, Prabowo belum tentu bisa menggaet mayoritas pemilih Jokowi. Karena pemilih Jokowi pun sudah punya persepsi dan stigma tertentu terhadap karakter dan personal Prabowo.

Ketiga, image Prabowo yang sudah tiga kali kalah yakni sekali menjadi cawapres, dua kali menjadi capres. Jika Prabowo masih maju sebagai capres 2024, secara hukum dan politik memungkinkan, namun akan dipersepsikan sebagai tokoh yang sangat ambisius, dan tidak memberikan kesempatan bagi tokoh-tokoh yang lebih muda untuk maju.

Artikel Asli