Loading...
Loading…
Dibeberkan Di Persidangan Ini Komunikasi Eks Walkot Tanjungbalai Dengan Lili Pintauli

Dibeberkan Di Persidangan Ini Komunikasi Eks Walkot Tanjungbalai Dengan Lili Pintauli

Nasional | rm.id | Senin, 11 Oktober 2021 - 16:00

Mantan Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial mengungkap komunikasi dirinya dengan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Lili Pintauli Siregar. Komunikasi antara Syahrial dan Lili terkait penanganan perkara di komisi antirasuah itu.

Syahrial mengungkapnya saat menjadi saksi dalam sidang kasus suap terhadap mantan penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju, terdakwa kasus dugaan suap penanganan perkara.

Syahrial, yang merupakan terpidana dalam kasus ini, memberi kesaksian dari Rutan Kelas I Medan melalui konferensi video. Sementara Robin dan kawannya, pengacara Maskur Husain, dihadirkan di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Awalnya, Jaksa KPK Lie Putra Setiawan bertanya kepada Syahrial soal perkenalannya dengan Lili Pintauli. "Lili Pintauli kenal?," tanya Jaksa Lie, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (11/10). Syahrial mengangguk. "Kenal. Wakil ketua KPK," jawab dia.

Jaksa kemudian bertanya, apakah Syahrial pernah memberikan uang kepada Lili. Dia menggeleng. Tidak pernah, katanya.

Pertanyaan diganti. Kali ini, Syahrial ditanya, pernahkah dirinya meminta bantuan Lili terkait perkara di KPK. Kali ini, Syahrial mengakui.

"(Pernah) meminta tolong, (tapi) saat itu saya belum pernah bicara, tapi beliau (Lili) yang menyampaikan (saya) ada masalah di KPK, terus saya bilang, \'itu kasus lama bu 2019\'. Kemudian dijawab, \'banyak-banyak berdoa lah," beber Syahrial.

Kemudian Jaksa Lie membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Syahrial saat proses penyidikan.

"BAP 41, setelah itu saya tidak komunikasi lagi dengan Bu Lili, baru komunikasi Juli 2020 saat saya sedang keluar tiga hari untuk jemaat tabligh, saya sedang cuti Pilkada, Bu Lili menyampaikan ada nama saya di berkas di mejanya, saya sampaikan itu perkara lama dari 2019, Bu Lili sampaikan agar saya banyak-banyak berdoa dan memohon petunjuk, kemudian saya sampaikan mohon dibantu, Bu Lili bilang tidak bisa dibantu, sudah keputusan pimpinan, lalu saya mengiyakan, benar?" tanya jaksa.

Syahrial membenarkan pernyataannya yang telah dituangkan di dalam BAP tersebut. Dia mengakui, dirinya meminta petunjuk kepada Lili. "Lili ada kasih saran?" tanya Jaksa Lie.

Kata Syahrial, Lili merekomendasikan nama Arief Aceh, seorang pengacara, untuk mengurus kasusnya. Tapi Syahrial bimbang. Soalnya, dia sudah duluan kenal dengan penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju, yang dikenalkan eks Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin kepadanya.

Dia pun menyampaikan saran Lili ke Robin. "Saya sampaikan ke pak Robin, \'siapa bang, Arief Aceh?\'. Kata bang Robin, \'itu pemain, terserah mau milih saya atau Arif Aceh\'," bebernya.

Syahrial akhirnya memutuskan memakai "jasa" Robin untuk mengurus perkara dugaan suap seleksi jabatan yang menyeret namanya. Robin meminta Rp 2 miliar untuk mengurus perkara. Tapi Syahrial hanya menyanggupi Rp 1,695 miliar.

Dalam perkara ini, Robin didakwa menerima uang Rp 11.025.077.000 dan USD 36 ribu atau setara Rp 513.297.001.

Robin, bersama Maskur Husain, menerima suap sejak Juli 2020 hingga April 2021. Berikut rincian uang yang diterima Robin bersama Maskur Husain:

1. Dari Wali Kota Tanjungbalai Muhamad Syahrial sejumlah Rp 1.695.000.000.

2. Dari Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin dan politikus Partai Golkar Aliza Gunado sejumlah Rp 3.099.887.000 dan USD 36 ribu.

3. Dari Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna sejumlah Rp 507.390.000.

4. Dari Usman Effendi sejumlah Rp 525.000.000.

5. Dari mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari sejumlah Rp 5.197.800.000.

Atas perbuatannya, Robin didakwa melanggar Pasal Pasal 12 huruf a jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 dan Pasal 65 ayat (1) KUHP dan Pasal 11 jo Pasal 18 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 dan Pasal 65 ayat (1) KUHP. [OKT]

Original Source

Topik Menarik