Loading...
Loading…
Dokter di Singapura Bagikan Kisah Isoman, Sebut Covid-19 seperti Flu

Dokter di Singapura Bagikan Kisah Isoman, Sebut Covid-19 seperti Flu

Nasional | jawapos | Senin, 11 Oktober 2021 - 16:01

JawaPos.com Seorang dokter di Singapura membagikan pengalamannya saat melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah karena terinfeksi Covid-19. Ia berharap dengan berbagi cerita, masyarakat bisa menghilangkan stigma penyakit itu sebagai penyakit yang mengancam jiwa.

Lai Kah Weng, nama dokter tersebut, merupakan seorang konsultan ahli bedah ortopedi dari Healthway Medicals Island Orthopaedic Consultants. Dia mengatakan kepada The Straits Times bahwa ia ingin melakukan perannya dalam menyoroti tanggung jawab sosial ketika berhadapan dengan Covid-19, tanpa terlalu takut. Dia menulis dalam sebuah posting Facebook bahwa dia isoman sejak 28 September 2021 hingga 8 Oktober 2021 setelah mengalami pilek dan demam ringan pada 27 September 2021.

Karena berhati-hati, dia dengan cepat mengisolasi dirinya dari keluarganya dan mengambil tes cepat antigen (ART) pada hari yang sama. Dan, ternyata negatif. Gejala seperti flu bertahan sepanjang malam, mendorongnya untuk membatalkan semua janji dengan pasiennya untuk hari berikutnya.

Saya tinggal di rumah di pagi hari, mencoba untuk beristirahat dan tetap terhidrasi, sehingga saya bisa menjadi pasien terakhir dan tidak berisiko menulari orang lain, tulis dr. Lai.

Saya mengalami demam sekitar 3,5 hari dan batuk kering disertai pilek, yang membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk sembuh, kata dr. Lai.

Rasanya seperti mengalami flu, yang berlangsung sedikit lebih lama dari biasanya, dan saya tahu itu semakin baik setiap hari, tambahnya.

Dokter Lai menyarankan mereka yang memiliki gejala yang memburuk untuk memberi tahu penyedia telemedicine untuk diobati lebih lanjut. Saya akui, saya sangat stres ketika pertama kali mulai mengalami gejala pada Senin malam (27/10), karena saya baru saja mengunjungi orang tua saya sehari sebelumnya, dan bertemu pasien saya di tempat kerja sebelum itu, kata dr. Lai.

Syukurlah, mereka semua baik-baik saja, ujarnya. Oleh karena itu, kesadaran dan tanggung jawab pribadi sangat penting, imbuhnya.

Sang dokter cepat mengisolasi dirinya sendiri tanpa membahayakan orang lain. Ia tinggal bersama istri dan keempat anaknya. Putrinya telah divaksinasi penuh, namun melakukan tes PCR dan positif.

Dia tidak menunjukkan gejala dan kemungkinan tertular infeksi darinya, katanya.

Ke depan, sang dokter berharap pengujian difokuskan pada mereka yang bergejala. Pengujian hanya ketika gejala ada akan memberikan hasil tertinggi. Jika pengujian PCR pre-emptive dipertimbangkan, mungkin kita hanya menguji mereka yang berisiko, jelasnya.

Dokter Lai berharap kebijakan baru soal isoman. Mereka yang tinggal bersama lansia dianjurkan perlu pindah ke fasilitas isolasi mandiri.

Original Source

Topik Menarik