Yusril: Yang Aneh Itu, Kalau DPP Partai Bikin Anggaran Dasar Perubahan

rm.id | Nasional | Published at Minggu, 10 Oktober 2021 - 20:57
Yusril: Yang Aneh Itu, Kalau DPP Partai Bikin Anggaran Dasar Perubahan

Yusril Ihza Mahendra, yang ditunjuk menjadi Pengacara Partai Demokrat kubu KLB Deli Serdang, mengaku heran dengan sikap pengacara Partai Demokrat kubu Cikeas, Hamdan Zoelva yang menyebut dirinya aneh karena mengajukan gugatan terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai berlambang mercy.

Yusril menjelaskan,yang diajukandalam permohonan gugatan bukanlah AD/ART PD ketika berdiri. Melainkan Anggaran Dasar (AD) Perubahan tahun 2020.

Menurutnya, AD Perubahan itu bukan produk DPP Partai mana pun, termasuk Partai Demokrat.

"Sesuai Undang-Undang Parpol, yang berwenang merubah AD/ARTadalah lembaga tertinggi dalam struktur partai tersebut. Dalam Partai Demokrat, lembaga tertinggi adalah Kongres. AD PerubahanTahun 2020 bukan produk DPP Partai Demokrat. Melainkan produk Kongres Partai Demokrattahun 2020," kata Yusril dalam keterangan persnya, Minggu (10/10).

Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu menyampaikan, DPP Partai memang berhak dan berwenang mewakili partai, baik secara eksternal atau internal. SelayaknyaDireksi dalam bentuk usaha Perseroan Terbatas (PT).

Namun, kewenangan itu tidak menyangkut perubahan Anggaran Dasar.

"Dalam partai, kewenangan itu ada pada Kongres atau Muktamar. Sementara dalam perseroan terbatas, kewenangan itu ada pada Rapat Umum Pemegang Saham. Akan terjadi tindakan seenaknya, jika DPP partai atau Direksi PT dapat mengubah AD," beber Yusril.

Jadi, tegasnya, tidak ada yang aneh dalam gugatan itu. Kata Yusril, yang aneh itu,kalaukuasa hukum meminta supaya DPP Partai Demokrat dijadikan pihak yang paling signifikan, dalam memberi keterangan atas permohonan judicial review .

Apalagi, menyebut DPP Partai sebagai pihak yang membuat AD Perubahan.

"DPP Partai Demokrathanyalah pihak yang diberi amanat atau mandat oleh kongres, untuk mendaftarkan perubahan AD/ART ke Kementerian Hukum dan HAM. Di partai mana pun, keadaannya sama," tandas pakar hukum tata negara itu.

Yusril juga mengatakan, dalam persidangan di Mahkamah Agung nanti, surat kuasa yang diberikan DPP Partai Demokrat kepada Hamdan Zoelva juga bisa dieksepsi sebagai surat kuasa yang tidak sah.

Sebab, kuasa itu tidak berasal dari pihak yang membuat AD ART.

"Keterangan yang diberikan bukan oleh pihak yang berwenang memberikan keterangan, tidak lebih dari sekedar testimonium de audiu ' yang tidak punya nilai pembuktian sama sekali. Tapi,kalau pengacara DPP Partai Demokratmau mencobanya, silakan saja," papar Yusril, menantang. [UMM]

Artikel Asli