Jejak Sujud sang Kiai dan Kehati-hatian

lampung.rilis.id | Nasional | Published at Minggu, 10 Oktober 2021 - 20:45
Jejak Sujud sang Kiai dan Kehati-hatian

WAJAHNYA menguar aura yang menyejukkan. Tampil bersahaja dengan sarung bermotif batik dan koko putih polos. Terlihat kontras dibanding empat lelaki perlente yang menemaninya bersilaturahmi di kediaman saya sore itu.

Setelah bercerita ihwal perjalanannya hingga ditakdirkan mengabdi sebagai pengasuh di sebuah pondok, entah bagaimana mulanya obrolan mengalir ke soal aneka lelaku para salik dan cerita seputar wali mastur .

Sebagai orang awam, saya mendengarkan layaknya bocah yang takjub pada dongeng menjelang tidur. Sesekali mencoba menimpali dengan cerita sejenis bermaksud mengimbangi dan menyamakan frekuensi obrolan agar semakin sahdu.

Beruntung saya sempat mengikuti kisah seorang Nyai, pengamal Dalailul Khairat yang diabadikan melalui postingan Facebook . Tulisan yang diunggah beberapa kali oleh kekasih sejatinya, Lora dari tanah Madura tepat setelah sang Nyai kembali ke rafiq al-ala . Tulisan yang mengharu biru dan membuka perspektif baru bagi saya tentang keutamaan amalan yang istikamah.

Tak dinyana, belakangan saya tahu ternyata tamu istimewa saya ini juga pengamal Dalailul Khairat . Bisa dibayangkan bagaimana keasikan obrolan kami setelah menemukan klik tersebut.

Saat hendak menunaikan salat asar, tanpa ragu saya tawarkan untuk salat di kediaman saya seakan tak ingin melepaskan kesempatan yang belum tentu datang dua kali. Kedatangannya saja bak kejatuhan rejeki besar, apalagi jika berkenan meninggalkan jejak sujudnya, begitu pikir saya.

Sambil mengantarkannya ke kamar mandi tamu saya mempersilahkan, Monggo Pak Kiai kalo mau berwudu.

Ada tempat wudu lain?

Seperti terkena setrum tegangan tinggi, saya segera tersadar dan secara refleks mengantarkannya ke kran belakang yang tidak menyatu dengan toilet.Tak berapa lama selepas menunaikan salat berjemaah di ruang keluarga, ia bersama rombongan pamit.

Setelah melepas kepergian mereka, saya duduk termangu di pojok belakang tak jauh dari kran tempat mereka berwudu. Saya tiba-tiba tersadar persis seperti orang yang siuman dari pingsan.

Betapa setelah sekian lama, bertahun-tahun bahkan sejak saya menempati rumah ini tak pernah terpikir sedikitpun tentang masalah berwudu di kamar mandi. Tentang risiko kesucian dari residu najis yang sangat mungkin terciprat mengingat kran tersebut menyatu dengan area mandi.

Lebih sepuluh tahun tak sadar merelakan diri bersahabat dengan risiko tak sempurnanya wudu karena abai memperhatikan hal-hal sepele.Bagaimana hendak menikmati khusyuknya salat jika detail prasyaratnya luput tak mendapat perhatian?

Teringat nenek di kampung yang semasa hidupnya dikenal sebagai pembuat ragi. Aneka bahan telah secara cermat ia persiapkan. Beras, bawang putih, bawang merah, kayu manis, lombok, lengkuas juga tebu yang selalu diambil dari belakang rumah dicek satu persatu.

Dan yang tak kalah pentingnya, ada beberapa pantangan yang mendapat perhatian serius. Tak boleh dilanggar. Sekali dilanggar, taruhannya ragi buatannya terancam gagal. Bantat.

Saya masih ingat, salah satu pantangan tersebut adalah tangan tidak boleh henil (bahasa Lampung dialek api), semacam bau yang disebabkan bekas memegang ikan atau daging.

Demi kualitas ragi yang paten, demi keyakinan pembuat tapai agar menghasilkan citra rasa yang maknyus, demi kepuasan para penikmat tapai, dan tentu demi nama besar nenek saya sebagai pembuat ragi legendaris, sedari awal hal-hal kecil telah mendapat perhatian ketat dan serius sebagai bentuk quality assurance .

Kenapa demi salat yang khusyuk, persoalan besar tentang kesempurnaan thaharah atau bersuci luput dari perhatian?

Kok bisa?

Kok sampai sekian lama?

Seketika saya merasa malu kepada Wak Dulhalim dan Ustaz Agus, guru ngaji saya semasa kecil dan semua ustaz yang pernah mengajarkan fikih. Padahal bab pertama yang diajarkan adalah bab thaharah. Tentang bersuci.

Lamunan saya bergerak cepat kepada cerita para salik yang secara ketat mendapat pendampingan mursyid menjalankan lelaku dan tirakat demi mengenyam halawatul iman, manisnya iman.

Tak hanya thaharah yang diperhatikan secara serius, bahkan setiap suap makanan, teguk minuman yang akan lewat tenggorokan, setiap kata yang ke luar dari lisan, bahkan setiap prasangka yang bersumber dari hati pun tak luput dari perhatian. Disortir secara ketat.

Sering sekali mendengar cerita tentang mereka yang selalu menerima peringatan lewat firasat dan mata batin ketika hendak mengkonsumsi makanan yang belum jelas kehalalannya. Bukan hanya mensortir dari yang haram, bahkan juga dari yang syubhat.

Subhanallah Mohon ampunan-Mu dari segala perasaan lebih baik dan menganggap remeh orang lain. Bagaimana mungkin gegabah merasa demikian? Jangankan mensortir makanan dan minuman yang hendak dikonsumsi, bahkan mensortir praktik wudu yang sempurna pun saya abai sekian lama.

Wangi sajadah bekas sujud sang kiai melemparkan saya ke kesadaran paling sublim tentang betapa pentingnya kehati-hatian. (*)

Artikel Asli