Studi: 50 Persen Penduduk Dunia Rentan Alami Rabun Jauh

republika | Nasional | Published at Minggu, 10 Oktober 2021 - 17:12
Studi: 50 Persen Penduduk Dunia Rentan Alami Rabun Jauh

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA-- Sebuah studi baru telah mengungkapkan hubungan antara melihat ponsel terlalu lama dan risiko yang lebih tinggi dan tingkat keparahan miopia atau rabun jauh, pada anak-anak dan orang dewasa. Dilansir daritimesnownewspada Ahad (10/10), temuan penelitian ini diterbitkan dalam jurnal 'The Lancet Digital Health'.

Penelitian akses terbuka ini dilakukan oleh para peneliti dan pakar kesehatan mata dari Singapura, Australia, China, dan Inggris, termasuk Profesor Rupert Bourne dari Anglia Ruskin University (ARU).

"Sekitar setengah dari populasi global diperkirakan akan menderita miopia pada 2050, jadi ini adalah masalah kesehatan yang meningkat dengan cepat. Studi kamiadalah yang paling komprehensif tentang masalah ini dan menunjukkan hubungan potensial antara waktu layar dan miopia pada orang muda," kata Profesor Bourne, Profesor Oftalmologi di Vision and Eye Research Institute di Anglia Ruskin University (ARU).

Para penulis saat ini memeriksa lebih dari 3 ribu penelitian yang menyelidiki paparan perangkat pintar dan miopia pada anak-anak dan dewasa muda berusia antara 3 bulan dan 33 tahun.

Setelah menganalisis dan menggabungkan studi yang tersedia secara statistik, penulis mengungkapkan bahwa tingkat waktu layar perangkat pintar yang tinggi, seperti melihat ponsel, dikaitkan dengan risiko miopia sekitar 30 persen lebih tinggi. Bila dikombinasikan dengan penggunaan komputer yang berlebihan, risiko itu meningkat menjadi sekitar 80 persen.

Penelitian ini dilakukan ketika jutaan anak di seluruh dunia telah menghabiskan banyak waktu menggunakan metode pembelajaran jarak jauh setelah penutupan sekolah karena pandemi Covid-19.

Penelitian ini datang pada saat anak-anak telah menghabiskan lebih banyak waktu daripada sebelumnya melihat layar untuk waktu yang lama.

"Kami juga tahu bahwa orang meremehkan screen time mereka sendiri, jadi penelitian di masa depan harus menggunakan ukuran objektif untuk menangkap informasi ini," kata dia.

Artikel Asli