Kasus Dugaan Pemerkosaan Di Luwu Timur Polisi Tegaskan Penghentian Kasus Sesuai Prosedur

rm.id | Nasional | Published at Minggu, 10 Oktober 2021 - 13:40
Kasus Dugaan Pemerkosaan Di Luwu Timur Polisi Tegaskan Penghentian Kasus Sesuai Prosedur

Polri menegaskan, penghentian penyelidikan kasus dugaan pemerkosaan tiga anak di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, sesuai prosedur. Korps baju cokelat memastikan, penyidik bekerja secara independen.

"Polri bekerja berdasarkan alat bukti kemudian penyidik itu independen, sekali lagi, Polri bekerja berdasarkan alat bukti dan penyidik itu independen," ujar Karopenmas Polri Brigjen Rusdi Hartono, dalam Konferensi Pers di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Minggu (10/10).

Banyak yang curiga, penghentian kasus itu berkaitan dengan status terduga pelaku yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Luwu Timur. Rusdi pun membantah kecurigaan tersebut.

Ditegaskannya, ketika menangani satu kasus, Polri tidak melihat latar belakang orang-orang yang sedang ditangani. "Siapapun dia, penyidik independen di situ," tegasnya.

Menurut Rusdi, berdasarkan alat bukti dan gelar perkara, disimpulkan bahwa belum cukup bukti telah terjadi tindak pidana. Karena itu, penyelidikannya dihentikan.

"Dihentikan bukan melihat latar belakang dari terlapor siapa-siapa, tidak. Tapi berdasarkan data obyektif dari penyidik itu sendiri," terang Rusdi.

Dalam penanganan kasus dugaan pemerkosaan, Rusdi melanjutkan, penyelidik menggunakan berbagai data ilmiah. Termasuk, hasil kesimpulan pemeriksaan medis dan psikologis.

"Seperti itu rangkaiannya. Tidak melihat siapa-siapa latar belakang dari terlapor, karena penyidik independen dalam menjalankan tugasnya," tegasnya lagi.

Sebelumnya, ibu korban berinisal RS melaporkan mantan suaminya SA, salah seorang ASN di Pemda Lutim terkait dugaan kekerasan seksual terhadap ketiga anak kandungnya masing-masing berinsial AL, MR, dan AL pada 2019 lalu.

Belakangan, kasusnya dihentikan penyidik karena beralasan tidak cukup bukti, hingga kasus ini kembali mencuat pada Oktober 2021 karena viral di media sosial terkait proses penghentian penyelidikan pada kasus tersebut dinilai ada kejanggalan oleh LBH Makassar selalu tim pendamping hukum korban. [OKT]

Artikel Asli