Lewat E-Sports, Anak-Anak Kita Bisa Membangun Kearifan

jawapos | Nasional | Published at Minggu, 10 Oktober 2021 - 11:01
Lewat E-Sports, Anak-Anak Kita Bisa Membangun Kearifan

JawaPos.com- Kompetisi game Mobile Legend yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Jawa Timur melalui Bidang Pembinaan SMA bertajuk East Java Student Championship 2021 berakhir Sabtu malam (9/10).

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi menutup perhelatan yang juga terselenggara untuk memperingati HUT Jawa Timur ke-76 itu. Secara total, SMA bertajuk East Java Student Championship 2021 diikuti oleh 500 tim atau 2500 peserta jenjang SMA negeri dan swasta tersebut.

Khofifah mengatakan, e-sports telah menjelma sebagai cabang baru di bidang olahraga yang banyak digemari generasi muda. E-sports hadir seiring dengan perkembangan zaman, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian canggih.

Sebagai cabang baru di bidang olahraga, jelas Khofifah, e-sports memiliki tantangan tersendiri. Yakni, kebutuhan terhadap sumber daya manusia dan teknologi yang memadai.

Syukuri dan nikmati apa yang Tuhan anugerahkan. Jadi kita bisa saling menghormati dan menghargai. Termasuk dalam e-sports ini, kata Khofifah dalam sambutannya di Hall Bromo, kantor pusat Bank Jatim, Surabaya.

Saya ingin lewat e-sports ini, anak-anak kita bisa membangun kearifan. Mudah-mudahan anak-anak semua menjadi champion. Dan bisa membawa nama baik Jawa Timur dan membawa harum bangsa Indonesia, imbuh Khofifah.

Di sisi lain, industri game di Indonesia tumbuh cukup potensial. Pada 2017, perputaran ekonominya mencapai Rp 12 triliun atau tumbuh 25 persen. Ke depan, industri game ini diprediksi semakin meningkat. Karena itu, perlu ditumbuhkan iklim e-sports yang memadai di Indonesia, terutama Jawa Timur.

Pada kegiatan yang dihadiri oleh Direktur Utama Bank Jatim Busrul Iman, Direktur PLN, dan Direktur Pelindo III itu, Khofifah juga menyerahkan Piala Gubernur Jatim 2021 kepada tim pemenang.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Wahid Wahyudi, Kepala Bidang Pembinaan SMA Dispendik Jatim Ety Prawesti, serta Ketua Harian Pengprov ESI Jatim Daniel Agung juga turut menyaksikan jalannya acara.

Wahid meyakini e-sports mampu mengajak generasi muda semakin familiar dengan teknologi digital. Karena itu, di samping menumbuhkan bibit-bibit atlet baru, dia berharap para generasi muda juga bisa memaksimalkan berbagai potensi perkembangan teknologi digital sebaik mungkin untuk hal-hal yang positif.

Sementara itu, rangkaian kompetisi game telah dimulai pada 24-26 September 2021. Sebanyak 500 tim yang berpartisipasi dibagi menjadi dua bracket masing-masing 250 tim.

Tim-tim tersebut lantas dipertemukan dalam babak single elimination hingga tercapai delapan besar. Delapan besar tim inilah yang bertanding secara offline di Surabaya. Selanjutnya diseleksi menjadi best of three, dan diperoleh pemenangnya.

Juara East Java Student Championship 2021 adalah Pinandhita Legends, tim asal tim asal SMAN 2 Lumajang. Kapten tim Pinandhita Legends Kevin Susanto mengatakan, persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari.

Sejak pendaftaran sudah melalui latihan intensif. Bahkan pernah latihan saat akhir pekan sampai menginap di rumah salah satu anggota, katanya.

Siswa kelas 12 itu menyebut, game online tidak mengganggu aktivitas belajar. Sebab, pihaknya tetap memprioritaskan waktu untuk belajar atau mengerjakan tugas. Bisa ngatur. Kalau ada tugas, ditunda dulu latihannya, tuturnya.

Kendala terberat yang dialami tim adalah kekalahan saat sparring dengan tim lain. Terutama saat latihan intensif. Bahkan bisa memicu pertengkaran. Namun, sifatnya tidak berlarut-larut dan bisa ada evaluasi serta kembali damai.

Untuk pertandingan ini, tidak ada kendala. Hanya mental dari beberapa teman sempat turun, tapi bisa diatasi lagi, terang remaja yang menyukai game online sejak kelas 8 SMP itu.

Bagi Kevin, game online sama dengan hobi lain. Misalnya, sama seperti hobi bermain olahraga bola basket. Artinya harus bisa mengatur waktu dan menentukan prioritas.

Di SMAN 2 Lumajang, kata dia, saat ini game online belum menjadi ekskul. Namun ke depan tidak menutup kemungkinan untuk menjadi ekskul sebab pihak sekolah sangat mendukung dan memfasilitasi.

Karena game ini cukup kompetitif. Menciptakan kerjasama tim, mengisi waktu luang, mencari kemenangan, dan bisa menjadi mata pencaharian, jelasnya.

Artikel Asli