Ekosistem Bisa Rusak Yuk, Atasi Pencemaran Limbah Farmasi Di Laut

rm.id | Nasional | Published at Minggu, 10 Oktober 2021 - 10:25
Ekosistem Bisa Rusak Yuk, Atasi Pencemaran Limbah Farmasi Di Laut

Senayan meminta Pemerintah mengambil langkah konkret menangani pencemaran lingkungan dari limbah farmasi di Teluk Jakarta. Adanya temuan kandungan paracetamol yang terkandung dalam laut itu dikhawatirkan menimbulkan dampak buruk yang berkepanjangan.

Jangan sampai pencemaran lingkungan ini berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Kolaborasi lintas instansi harus segera dilakukan guna mempercepat penyelesaian masalah tersebut, kata Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Politisi PKB itu menekankan, tidak hanya ditemukan konsentrasi paracetamol yang tinggi, namun juga terdapat cemaran logam di Teluk Jakarta. Jika dibiarkan, maka paparan dari efek tersebut akan merusak ekosistem serta membahayakan alam dan manusia.

Dia bilang, pencemaran lingkungan ini jangan sampai mendatangkan masalah kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Mengingat banyak warga di sekitar yang mencari nafkah dengan memanfaatkan laut Teluk Jakarta.

Solusi yang hadir juga harus mengedepankan penyelamatan terhadap biota laut. Kami mendorong secepatnya Teluk Jakarta dibersihkan dari cemaran tersebut, tegas Daniel.

Berdasarkan temuan gabungan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan University of Brighton UK ditemukan sebagian Teluk Jakarta mengandung konsentrasi paracetamol, obat pereda demam dan nyeri, di Teluk Jakarta relatif tinggi dibandingkan dengan pantai-pantai di belahan dunia, yakni 420- 610 nanogram per liter (ng/L). Menyikapi hal ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membentuk tim kerja untuk menangani permasalahan pencemaran lingkungan di Jakarta.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta juga telah mengambil sampel air laut di dua lokasi yang disebut tercemar kandungan paracetamol, yaitu Angke dan Ancol. Akan tetapi, hingga saat ini masih belum diketahui sumber pencemaran lingkungan di Teluk Jakarta. Untuk tahap awal, dugaan sementara kandungan paracetamol itu bersumber dari ekskresi konsumsi masyarakat yang berlebihan, limbah dari rumah sakit, dan industri farmasi.

Peneliti juga mengungkap kemungkinan sumber pencemaran bukan hanya dari warga Jakarta, tapi juga dari kawasan sekitar seperti Bogor, Bekasi dan Depok. Bahkan 60-80 persen pencemaran diprediksi datangnya dari daratan ( land based ) seperti pembuangan sampah obat paracetamol kedaluwarsa. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan pencemaran diakibatkan oleh kebocoran industri farmasi.

Daniel mengatakan, pencemaran paracetamol juga bisa akibat manajemen penanganan limbah yang kurang baik sehingga membuat kotoran tidak terurai dengan baik. Adanya kemungkinan tersebut, Daniel berharap pemerintah bersama stakeholder terkait menyelidiki kemungkinan ada oknum-oknum pengumpul bahan berbahaya dan beracun (B3). Dirinya mengingatkan pengelolaan limbah B3 sudah memiliki aturan tersendiri dan adanya ancaman pidana jika ditemukan keteledoran. [ ONI ]

Artikel Asli