Sebut Jokowi Gagal, Rocky Gerung Kena Sentil

wartaekonomi | Nasional | Published at Minggu, 10 Oktober 2021 - 07:15
Sebut Jokowi Gagal, Rocky Gerung Kena Sentil

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi blak-blakan sentil pernyataan Rocky Gerung yang terlalu mendramatisir menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) gagal.

Hal tersebut diungkapkan Burhanuddin Muhtadi merespons pernyataan Rocky Gerung yang tidak sepakat dengan pernyataan Profesor Nasional University of Singapore, Kishore Mahbubani.

Sebelumnya, Kishore Mahbubani memberikan pujian pada Presiden Jokowi melalui artikel yang dipublikasikan berjudul The Genius of Jokowi pada 6 Oktober 2021.

Dalam tulisannya, Mahbubani menuliskan capaian Jokowi selama 7 tahun menjadi presiden Republik Indonesia.

Poin penting yang disampaikan oleh Mahbubani, Jokowi disebut mampu menjaga stabilitas politik bahkan menyatu dengan lawan politiknya.

Bahkan dalam tulisannya, Mahbubani menyebut tidak dapat disangkal Jokowi adalah pemimpin paling efektif.

Mahbubani juga menjabarkan program program yang dijalankan Jokowi terkait Pendidikan, sosial, dan infrastruktur.

Menurut Mahbubani keberhasilan Presiden Indonesia Joko Widodo layak mendapat pengakuan dan penghargaan yang lebih luas.

Menurutnya, Jokowi memberikan model pemerintahan yang baik yang dapat dipelajari oleh seluruh dunia.

Mahbubani juga menyebut Jokowi memimpin di salah satu negara yang terkenal paling sulit diperintah di dunia.

Kishore Mahbubani adalah Profesor Asia Research Institute National University of Singapura.

Merespons hal tersebut, Burhanuddin mengaku ingin lebih proporsional melihat beberapa tulisan Mahbubani terkait Jokowi.

"Kalau gagal semua hal menurut saya Rocky Gerung juga terlalu mendramatisasi," tegas Burhanuddin Muhtadi dalam keterangannya, Jumat (8/10).

Menurut Burhanuddin Muhtadi, apa yang disampaikan Mahbubani melalui tulisannya memiliki dasar empirik.

"Misalnya soal panjang tol itu dia merujuk pada riset yang dilakukan oleh seorang ahli mengenai infrastruktur, kemudian mengenai polarisasi yang turun pasca dia menarik Pak Prabowo dan Pak Sandi dalam Kabinet itu juga ada dasarnya," jelas Burhanuddin Muhtadi.

"Jadi polarisasi tidak separah di Amerika Serikat, itu dasar empiriknya jelas," sambungnya.

Namun, Burhanuddin Muhtadi juga menyampaikan kritiknya pada tulisan Mahbubani yang menurutnya terlalu fokus developmentalisme.

Sehingga yang diangkat dalam tulisannya soal Jokowi itu lebih pada pembangunan infrastruktur.

"Jadi sedikit sekali yang dia, bahkan nyaris tidak ada perhatian atau kritik Mahbubani terkait dengan isu demokrasi, isu terkait dengan pemberantasan korupsi yang merosot pada masa pemerintahan Pak Jokowi, isu terkait dengan proteksi hak asasi manusia itu nggak ada dalam tulisan Mahbubani," beber Burhanuddin Muhtadi.

Burhanuddin Muhtadi memahami kenapa Mahbubani hanya fokus pada pembangunan. Menurutnya, itu dikarenakan Mahbubani menganggap isu-isu demokrasi dan HAM bukan sebagai isu krusial.

"Pada titik itu, itu menjadi kekuatan Pak Jokowi, developmentalisme adalah sesuatu yang membuat seorang Mahbubani jatuh cinta kepada seorang Jokowi," ujar Burhanuddin Muhtadi.

"Tidak ada yang salah dengan datanya tetapi tidak mengulas secara utuh. Tujuh tahun Pak Jokowi bukan hanya dari sisi ekonomi, tapi juga dari sisi demokrasi dan Hak Asasi Manusia," imbuhnya.

Artikel Asli