"Sportswashing"

rm.id | Nasional | Published at Minggu, 10 Oktober 2021 - 07:07
"Sportswashing"

Bagi Muhammed bin Salman, enam triliun rupiah bisa dibilang uang receh. Seperti duit saweran di acara dangdutan. Kecil.

Dengan uang sejumlah itu pangeran Arab Saudi yang namanya biasa disingkat MbS ini mengguncang sepakbola Inggris. Pangeran berusia 36 tahun ini membeli klub semenjana Newcastle United seharga enam triliun rupiah! Dia menggunakan bendera Konsorsium Arab Saudi Public Investment Fund (PIF).

Jumlah itu tak seberapa dibanding kekayaannya yang mencapai 320 miliar poundsterling. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp 6,1 dwiyar atau kuadriliun. Nominal di atas triliun ini jarang disebut karena tidak banyak individu yang memiliki uang sebanyak itu.

Apa yang dicari MbS? Prestasi? Mungkin. Nama dan popularitas? Bisa jadi. Investasi bisnis? Mungkin saja.

Tapi tudingan yang tak kalah ramai yakni sportswashing . Dia dituduh mencuci nama lewat olahraga. Praktik ini bisa dilakukan perorangan, perusahaan atau pemerintah dan negara.

Di tingkat negara, sportswashing digunakan untuk mengalihkan perhatian publik dari buruknya rapor hak asasi manusia atau catatan minor lainnya. Bagi seorang tokoh atau perusahaan, sportswashing menjadi deterjen pencuci nama, penutup skandal sekaligus mencari nama dan reputasi.

Di mata pegiat HAM, Arab Saudi memiliki catatan buruk tentang HAM. Kasus terbunuhnya wartawan Jamal Khashoggi di Istanbul pada 2018, intervensi militer Saudi ke Yaman dan tindakan ekstra keras terhadap perbedaan pendapat dinilai menodai reputasi negara kerajaan itu. Direktur Amnesty International Inggris, Kate Allen, sangat menyoroti isu ini.

Beberapa pemilik klub besar Liga Inggris, seperti MU, Liverpool dan Tottenham Hotspur kabarnya ikut menolak kehadiran juragan besar dari Arab Saudi. Manchester City tidak ikut mempertanyakan, karena kepemilikan mayoritas Abu Dhabi atas City Football Group, juga kerap menjadi sorotan.

Selain sportswashing , alasan penolakan beberapa klub ini juga karena kekhawatiran terhadap UEFA Financial Fair Play Regulations. Regulasi ini mengharuskan persaingan sehat. Jangan membeli kesuksesan dengan cara besar pasak daripada tiang.

Istilah sportswashing muncul di era 90-an. Praktiknya sih sudah sangat lama. Misalnya, Hitler dengan Olimpiade 1936-nya. Atau, Presiden Filipina Ferdinand Marcos, saat menggelar pertandingan tinju kelas berat Muhammad Ali vs Joe Frazier, yang dikenal sebagai Thrilla in Manila pada 1975. Banyak lagi event lain yang dituding sebagai sportswashing .

Dalam kasus pembelian Newcastle United oleh putra mahkota Arab Saudi, kelompok suporter Newcastle ditanya sikapnya. Mereka serentak menjawab: setuju. Pihak Liga Inggris juga oke. Tidak ada masalah.

Bagi suporter, tak peduli bolanya dari mana, yang penting bisa terjaring ke gawang lawan. Gol. Bisa bahagia menyaksikan klub kebanggaannya menang.

Pemilik juga punya goal yang lain. Yang lebih besar dan luas. Tidak sekadar menang kalah di lapangan hijau. Walau harus merogoh kocek sampai triliunan rupiah. (*)

Artikel Asli