Facebook Cs Down, Pelaku Usaha Ketar-Ketir Saatnya Kita Bangun MedsosDan Layanan Buatan Sendiri

rm.id | Nasional | Published at Minggu, 10 Oktober 2021 - 06:50
Facebook Cs Down, Pelaku Usaha Ketar-Ketir Saatnya Kita Bangun MedsosDan Layanan Buatan Sendiri

Tak hanya netizen yang geger akibat tumbangnya raksasa media sosial (medsos) Facebook, Instagram dan WhatsApp, Senin (4/10). Para pelaku usaha juga ketar-ketir. Pasalnya, tak sedikit pengusaha yang terhubung dengan ketiga aplikasi itu.

Diketahui, penjualan lewat social commerce (Facebook Cs) terus mengalami kenaikan. Menurut hasil riset eMarketeer , penjualan lewat social commerce tembus 23,3 miliar dolar AS (Amerika Serikat) atau setara Rp 344,6 triliun.

Angka itu naik signifikan sejak pandemi pada 2020. Dibanding pada 2019 yang mencapai 21,1 miliar dolar AS (Rp 299,9 triliun). Bahkan dari riset social commerce global 2020, 74 persen konsumen mengandalkan medsos dalam membuat keputusan membeli barang.

Tak heran, ketika tiga aplikasi jagoan tersebut down beberapa jam, beberapa pelaku usaha medsos khawatir.

Susanti Masnan (41), misalnya. Pelaku usaha aksesoris asal Yogyakarta ini sangat mengandalkan Facebook dkk dalam platform penjualannya.

Saat down Senin lalu, Susanti khawatir hal tersebut berlangsung lama. Sempat berpikir juga gimana kalau sampai seharian. Karena jujur saja, saat malam hari juga tak sedikit yang melakukan transaksi dan penjualan, curhat Susanti saat dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin.

Dalam sehari, Susanti mengaku bisa meraih penjualan atau transaksi minimal 5-10 kali. Kalau berlangsung lama (down social commerce), pasti akan berdampak. Artinya, dalam sehari berarti saya kehilangan penjualan, cemasnya.

Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Bima Laga mengakui, medsos menjadi salah satu kanal promosi bagi para pelaku usaha, terutama di marketplace . Tapi memang, penjualan tak sepenuhnya dilakukan lewat medsos.

Menurut kami, down -nya tiga medsos itu tidak terlalu banyak pengaruhnya. Merchants biasanya memanfaatkan medsos untuk promosikan produk, fokus transaksi tetap ada di marketplace , jelas Bima kepada Rakyat Merdeka , kemarin.

Apalagi, kejadian down tersebut pada malam hari menuju tengah malam, maka tidak ada dampak ke bisnis di marketplace secara signifikan.

Berkaca pada pengalaman tersebut, Bima menyarankan, sebaiknya merchant s melakukan promosi tidak hanya di satu kanal saja. Ditambah lagi, kini marketplace juga memiliki kanal promosi yang bisa dimanfaatkan maksimal selain dengan medsos.

Jika itu terjadi lagi, bahkan di siang hari, tak merugikan merchants . Karena masih ada kanal promosi lain yang jalan, saran Bima.

Dikutip dari laman pendeteksi situs Downdetector , Instagram error setidaknya dirasakan oleh sekitar 6 ribu pengguna.

Menurut laporan itu, sejumlah pengguna mengeluhkan platform milik Facebook itu down dengan berbagai permasalahan. Downdetector menyebut, mungkin ada lebih banyak pengguna yang terdampak error-nya Instagram ketimbang yang melaporkan.

Sementara, Peneliti Teknologi dari Information Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi mengatakan, Facebook, WhatsApp dan Instagram yang kembali mengalami down , tidak lebih parah sejak kejadian serupa terjadi pada 2019. Saat itu down lebih dari 24 jam.

Kali ini, layanan medsos milik Mark Zuckerberg ini down selama 6 jam. Kendati demikian, memang banyak yang merasa resah. Terutama yang menjadikan Facebook, WhatsApp dan Instagram sebagai tools mata pencaharian.

Banyak yang bilang ini ada kesalahan pada DNS ( Domain Name System ) bahkan human error . Tapi penyebab pastinya apa, hanya mereka yang tahu, jelas Heru kepada Rakyat Merdeka , kemarin.

Menurut Heru, dengan adanya peristiwa tersebut, Indonesia seharusnya membuat kesepakatan dengan Facebook dkk. Misal, ada ketentuan yang memaksa mereka memperhatikan kualitas layanan. Terutama jika sampai merugikan bisnis pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).

Kalau tidak mampu, ada jalan kedua. Ini saatnya kita membangun media sosial, email dan layanan milik bangsa sendiri. Sudah lama saya membayangkan kita punya media sosial yang bisa dipakai macam-macam, seperti WeChat di China sana, ungkap Heru.

Dia khawatir, jika terus bergantung pada media sosial asing, lalu ada problem atau konflik dengan aplikasi atau pemerintah tempat medsos tersebut berasal, ada kemungkinan layanan di- block sepihak.

Alhasil, sambung Heru, masyarakat Indonesia bisa kalang kabut karena komunikasi terhambat bahkan putus.

Ini era big data . Kita sebenarnya mampu menggarap semua potensi ekonomi digital Tanah Air secara maksimal dan bertahap. Kita punya perusahaan teknologi milik negara, Telkom, punya banyak anak muda berbakat di IT. Kita pasti mampu, tandasnya. [DWI]

Artikel Asli