Mantan Presiden Iran Pascarevolusi Meninggal di Paris

republika | Nasional | Published at Minggu, 10 Oktober 2021 - 05:15
Mantan Presiden Iran Pascarevolusi Meninggal di Paris

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Keluarga mantan presiden Iran Abolhassan Banisadr menyatakan, politisi yang berada di pengasingan itu meninggal dunia setelah lama sakit di Paris. Usai revolusi 1979, Banisadr menduduki jabatan di pemerintahan Iran.

Ia pernah menjadi presiden, menteri luar negeri, menteri ekonomi, dan anggota Dewan Revolusi Ayatollah Ruhollah Khomeini. Tapi kemudian berpisah dari pemimpin tertinggi Iran itu.

Putra seorang ulama itu salah satu instrumen Khomeini menuju dan saat sedang berkuasa setelah revolusi. Tapi ia menghabiskan empat dekade terakhir hidupnya di pengasingan.

Dikutip dari Deutsche Welle , Sabtu (9/10), kisah hidup Banisadr berkelindan dengan sejarah Iran dalam setengah abad terkahir. Saat masih muda ia aktivis di Front Nasional Iran yang mendukung Presiden Mohammad Mossadegh yang kemudian digulingkan CIA pada tahun 1953.

Pada tahun 1970-an ia memberikan apartemennya di Iran untuk Khomeini ketika pemerintah sah Iran memaksa ulama itu lari dari Iran pada tahun 1978. Banisadr memindahkan keluarganya dari apartemen itu untuk memberi Khomeini tempat tinggal yang kemudian jadi pemimpin tertinggi Iran.

Karena ia lama tinggal sebagai pengasingan di Prancis, Banisadr kerap memakai jas gaya barat yang sangat berbeda dangan para ulama yang memimpin revolusi. Pada filsuf terkenal Jean-Paul Sarte, ia pernah mengatakan akan menjadi presiden Iran. Sekitar 15 tahun kemudian ia berhasil memenuhi janjinya tersebut.

Pendukung Islam liberal-sosialis itu digulingkan dari jabatan presiden pada Juni 1981 setelah berbeda pandangan dengan para ulama garis keras yang memimpin Iran. Ia melawan visi pemerintahan otoritarian Khomeini.

Walaupun ia terbang dengan pesawat yang sama dengan pemimpin tertinggi itu saat pulang dari Prancis ke Iran pada tahun 1979. Lalu menjabat sebagai anggota Dewan Revolusi.

Di pemerintahan pertama revolusi ia menjabat sebagai menteri luar negeri. Ia dilantik beberapa hari setelah mahasiswa yang diradikalisasi mengepung Kedutaan Besar AS di Teheran dan menyandera para diplomat.

Kemudian ia menyebut para penyandera itu berperilaku seperti 'diktator yang mencipitakan pemerintah di dalam pemerintahan'. Khomeini memecat Banisadr dari jabatan menteri luar negeri setelah 18 hari bekerja karena ia ingin bernegosiasi dalam krisis penyanderaan tersebut.

Khomeini menggantinya dengan politisi garis keras yang membelanya. Pada awal tahun 1980-an Banisadr memenangkan dua per tiga suara dan menjadi presiden.

Pemilihan digelar tidak lama usai Khomeini mengeluarkan fatwa yang menyatakan ulama tidak boleh jadi presiden. Pelantikannya penuh dengan semangat dan optimisme.

"Revolusi kami tak akan menang kecuali diekspor, kami akan menciptakan tatanan baru di mana orang yang kekurangan tidak selalu kekurangan," katanya saat itu.

Setelah 16 bulan menjabat, parlemen yang dikuasai ulama garis keras memakzulkannya. Karena ia berbeda pandangan dengan Khomeini.

Artikel Asli