Prediksi Masa Depan Film Horor, Pandemi Bisa Jadi Inspirasi?

Nasional | republika | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 16:08
Prediksi Masa Depan Film Horor, Pandemi Bisa Jadi Inspirasi?

REPUBLIKA.CO.ID, LOS ANGELES -- CEO rumah produksi Blumhouse, Jason Blum, mencoba memprediksi tren film horor pada masa depan. Kepada laman CBR , Blum mengatakan bahwa genre horor cenderung mencerminkan fenomena yang terjadi di masyarakat.

Karenanya, menurut dia, tren film horor ke depan akan bersandar pada isu karantina selama pandemi Covid-19. Selama pandemi semua orang terkurung di rumahnya sendiri, dan aku pikir pengalaman itu akan menimbulkan beberapa cerita hebat, kata Blum seperti dilansir di laman Screen Rant , Rabu (6/10).

Ia kemudian mengatakan bahwa ke depannya film horor akan lebih fokus menggambarkan kekerasan seperti yang ditampilkan di The Purge, film terbaru dari Blumhouse. Itu artinya, film horor dengan genre swing antara supranatural dan sangat realistis akan mulai ditinggalkan.

Biasanya rantai film horor itu selalu swings antara supernatural dan sangat realistis. Saya pikir, untuk sekarang, apalagi menjelang Halloween, film horor tidak terlalu banyak menampilkan hantu dan lebih banyak menampilkan kekerasan, kata dia.

Blum telah menghasilkan ratusan film selama beberapa dekade terakhir, menjadikannya salah satu produser paling produktif di Hollywood. Dia membentuk Blumhouse, sebuah perusahaan produksi yang berfokus pada genre horor, dari film-film berbiaya kecil hingga besar, yang telah menjadi kandang untuk film horor berkualitas.

Produksi terbaru Blum termasuk trilogi Halloween , The Black Phone , The Forever Purge , Freaky , dan lainnya. Blum baru-baru ini menghidupkan kembali waralaba Halloween, yang merupakan bagian dari trilogi baru, termasuk Halloween (2018), Halloween Kills yang rilis tahun ini, dan Halloween Ends untuk rilis 2022.

Kepiawaian Jason Blum dalam mengaduk-aduk alur di film horor tentu saja merupakan salah satu alasan kesuksesan Blumhouse. Teori Blum soal film horor yang diilhami pandemi juga mungkin ada benarnya, mengingat saat ini siklus berita saja sudah bisa menciptakan ketakutan, kepanikan, dan paranoia mutlak.

Artikel Asli