Tingkatkan Literasi Di Sumbawa, Perpusnas Gaet Pemda Sampai Kampus

Nasional | rm.id | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 14:47
Tingkatkan Literasi Di Sumbawa, Perpusnas Gaet Pemda Sampai Kampus

Sumbawa merupakan kabupaten terluas di Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan 24 kecamatan, 157 desa. Namun, potensi sumber daya manusia Sumbawa belum teroptimalkan. Kehadiran Bunda Literasi dan rancangan regulasi yang disusun diharapkan bisa mengungkit indeks literasi masyarakat Sumbawa.

"Angka indeks literasi masyarakat di sini baru 5,17 persen. Dan itu bukan semata tanggung jawab perpustakaan. Peran literasi juga harus dimainkan Dinas Pendidikan, mengingat jantungnya pendidikan adalah perpustakaan. Dan Dinas Komunikasi dan Informatika terkait dengan kampanye literasi digital yang marak dilakukan," ucap Bupati Sumbawa Mahmud Abdullah, pada kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) di Kabupaten Sumbawa, Rabu, (6/10/).

Untuk meningkatkan literasi tersebut, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) juga melakukan Memorandum of Understanding (MoU) bersama berbagai perguruan tinggi di NTB. Antara lain Universitas Teknologi Sumbawa, STKIP Taman Siswa Bima, STKIP Paracendekia NW Sumbawa, STKIP Yapis Dompu, STIH Muhammadiyah Bima, STIE Bima, STA Islam Nahdhatul Wathan Sampawa Sumbawa, dan Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Bima

Hal senada disampaikan Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando. Syarif Bando menegaskan, sudah menjadi kewajiban penyelenggara negara untuk mencerdaskan anak bangsa dan memastikan SDM berdaya saing. Semua pihak harus bahu-membahu agar SDM kita mengusai Iptek. "Siapa yang menguasai Iptek, maka ia akan menguasai dunia," terangnya.

Maka itu, lanjutnya, penguasaan literasi mutlak dimiliki siapa pun. Syarif Bando menerangkan, saat ini angka buta aksara masyarakat Indonesia kini sudah rendah, hanya menyisakan 4 persen. Dia juga memastikan, minat baca masyarakat juga sangat tinggi. Hanya saja, kesediaan buku masih kurang.

"Bukan literasi Indonesia yang rendah, tetapi rasio buku dengan penduduk yang jauh dari kondisi ideal. UNESCO mensyaratkan, satu orang memerlukan tiga buku baru tiap tahun. Namun, realitanya satu buku ditunggui 90 orang. Jadi, yang terjadi di Indonesia adalah kurang bahan bacaan yang berkualitas dan tepat sasaran kebutuhan," terangnya.

Untuk mengatasi ini, lanjutnya, semua komponen harus mengambil peran. Peningkatan indeks literasi harus dilakukan secara besar-besaran. Hanya dengan bersinergi, Indonesia bisa mempercepat pembentukan kualitas SDM.

Sinergi penting meningkatkan literasi di Sumbawa juga didukung legislatif. DPRD Sumbawa yang telah menginisiasi Rancang Peraturan Daerah (Raperda) peningkatan gemar baca dan literasi.

Ketua DPRD Sumbawa Abdul Rafiq sangat berharap, Raperda ini dapat ditindaklanjuti menjadi rencana kerja pemerintah daerah Sumbawa. "Tanpa regulasi, sulit gerakkan literasi. DPRD siap mem- back up ," terangnya.

Gelora meningkatkan literasi masyarakat juga makin tebal dengan dikukuhkannya sebagai Bunda Literasi Sumbawa Dewi Noviani oleh Kepala Perpusnas. Bahkan, dalam waktu dekat, Bunda Literasi segera ancang-ancang menyusun regulasi program satu pojok baca tiap desa.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Teknologi Sumbawa Chairul Hudaya mengatakan, demi mendukung perbaikan mutu SDM, kampus dipandang perlu untuk mencetak kader-kader atau lulusan yang memiliki jiwa enterpreneur. Artinya, dengan jiwa entrepreneur otomatis akan mendorong mereka untuk terus berpikir kompetitif.

Di samping itu, para mahasiswa juga harus memahami bahwa konsep pengetahuan tidak mesti didapat dari bangku kuliah, tapi bisa juga diperoleh dari luar program studi, seperti dunia usaha atau industri. "Dunia usaha dan industri itu bergerak cepat. Maka, orientasi kampus juga harus link and match dalam mencetak masa depan generasi, " urai Chairul Hudaya. [ USU ]

Artikel Asli