Saksi Kasus Benih Jagung: BPSB NTB Temukan Indikasi Benih Palsu

Nasional | lombokpost | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 13:42
Saksi Kasus Benih Jagung: BPSB NTB Temukan Indikasi Benih Palsu

MATARAM -Mantan Kepala UPT Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) NTB Mawardi memberikan kesaksian dalam sidang perkara korupsi pengadaan benih jagung tahun 2017 di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, Selasa (5/10). Dia mengaku menemukan ada benih jagung yang tidak terverifikasi dari BPSB Jawa Timur (Jatim). Terindikasi benih jagung itu palsu, kata Mawardi di hadapan majelis hakim.

Indikasi itu ditemukan setelah turun mengecek benih jagung yang disalurkan ke petani pada pengadaan pertama yang dilakukan PT Sinta Agro Mandiri (SAM). Tim BPSB turun mengecek atas dasar laporan masyarakat. Ada 150 ton benih jagung yang terindikasi palsu yang kita temukan, bebernya.

Saat turun ditemukan benih jagung berjamur, tidak tumbuh, dan rusak. Menurutnya, kadar air benih jagung tersebut tidak sesuai.

Atas temuan itu, pihaknya berkoordinasi dengan BPSB Jatim untuk memastikan apakah benih jagung tersebut sudah terverifikasi atau tidak. BPSB Jatim menyatakan benih tersebut tidak terverifikasi. Itu dilihat dari label pada benih tidak sesuai, ungkapnya.

Berdasarkan keterangan BPSB Jatim, kata Mawardi, label asli yang dikeluarkannya dapat terdeteksi melalui sinar UV. Kalau terdeteksi sinar UV itu berarti label benih jagung dikeluarkan resmi oleh BPSB Jatim, bebernya.

Atas temuan tersebut, BPSB NTB telah memberitahukan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB. Pihaknya merekomendasikan ke dinas terkait untuk mendorong rekanan mengganti benih jagung yang terindikasi dipalsukan. Penggantiannya sudah dilakukan, ucapnya.

Pihak PT SAM yang diminta untuk mengembalikan malah meminta bantuan pada PT Wahana Banu Sejahtera (WBS) untuk menyediakan stok benih jagung. Diduga PT WBS bersedia membantu dengan membeli benih jagung dari PT Tani Tandur.

Namun, benih jagung pengganti juga demikian (diduga tidak sesuai spesifikasi dan label tidak dikeluarkan BPSB Jatim), kata Mawardi.

Namun, penasihat hukum terdakwa L Ikhwan Hubi, Ainudin mendalami peran BPSB NTB dalam proyek tersebut. Ainudin mempertanyakan ke Mawardi terkait tupoksi BPSB dalam proyek tersebut. Mengapa BPSB tidak mengecek sebelum proyek dilaksanakan? tanya Ainudin.

Mawardi mengakui dirinya tidak mengecek sebelum pelaksanaan proyek. Karena sifat BPSB NTB hanya pasif. Karena yang mengeluarkan sertifikasi benih adalah BPSB Jatim. Kita melakukan pengecekan setelah menerima laporan dan pengaduan dari masyarakat, jawabnya.

Tetapi Mawardi tidak menyebut siapa yang melakukan pemalsuan benih jagung. Saya tidak bisa sebut nama. Kita hanya temukan indikasi palsu, tegasnya.

Diketahui, proyek pengadaan benih jagung dilakukan dua tahap. Pertama dikerjakan PT SAM dengan anggaran Rp 17,28 miliar. Sedangkan tahap dua dikerjakan PT WBS dengan anggaran Rp 31,76 miliar.

Dari proyek tersebut awalnya menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Selanjutnya, pihak Itjen Kementerian Pertanian RI menyimpulkan hasil audit temuan mencapai Rp 10,5 miliar.

Tetapi, setelah proses penyidikan, temuan kerugian negara membengkak menjadi Rp 27,35 miliar. Temuan itu berdasarkan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Kalau saat audit dari BPK saya tidak dilibatkan. Kalau dari BPKP dilibatkan, kata Mawardi. (arl/r1)

Artikel Asli