Dugaan Sepak Bola 'Gajah' Terjadi di Ajang PON XX Papua

Nasional | jawapos | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 13:05
Dugaan Sepak Bola

JawaPos.com - Dugaan sepak bola 'gajah' terjadi di ajang PON XX. Laga babak penyisihan grup C antara Aceh kontra Kalimantan Timur (Kaltim), Senin (4/10), dianggap janggal.

Laga yang berjalan di Stadion Barnabas Youwe, Kabupaten Jayapura tersebut semula berjalan baik-baik saja. Pada awal babak kedua, skor masih imbang 2-2. Jika skor itu bertahan sampai tuntas, Aceh dipastikan tersingkir sebab mereka cuma mengantongi satu poin dari dua laga.

Praktis, Sulawesi Utara (Sulut) yang punya tiga poin dari dua laga berhak melaju ke enam besar. Namun, semua berubah pada menit ke-70. Bek Kaltim M Rizky Romadhon mencetak gol bunuh diri. Bola muntah yang mengarah kepadanya, langsung dia sambar ke arah gawang timnya sendiri.

Alhasil, Aceh berhasil menutup laga dengan kemenangan 3-2 dan lolos ke babak enam besar. Mereka unggul produktivitas gol atas Sulut. Nah, gol bunuh diri itulah yang membuat kubu Sulut emosi. Mereka menilai ada main mata antara Kaltim dan Aceh.

"Permainan kurang sportif yang ditunjukkan (Kaltim dan Aceh, Red) membuat Sulut harus tersingkir," kecam ofisial tim Sulut Jeffry Talumepa.

Pihak PB PON XX langsung memberikan tanggapan. Ketua Bidang II PB PON XX Roy Letlora sudah tahu akan dugaan itu. Pihaknya belum bisa memastikan apakah akan ada sanksi, sebab belum ada bukti bahwa kedua tim benar-benar main mata.

"Kami harus berpikir positif dulu. PB PON akan berkoordinasi dengan panitia pertandingan. Kami tidak bisa diam," kata Roy dalam rilisnya.

Masalahnya, waktu untuk melakukan penyelidikan sangat mepet. Laga babak enam besar sudah akan dimulai hari ini. Bahkan, sore nanti Aceh sudah akan bermain melawan Papua di Stadion Barnabas Youwe.

Sangat mungkin laga tetap akan digelar. Pasalnya, persiapan untuk menggelar babak enam besar sudah 100 persen.

Meski begitu, belum ada kepastian apa sanksi yang akan diberikan jika Aceh dan Kaltim terbukti main mata. Jawa Pos sudah mencoba meminta konfirmasi kepada kedua tim, tapi belum ada jawaban dari pihak Aceh dan Kaltim.

Pelatih Aceh Fakhri Husaini hanya menyampaikan pesan melalui akun Instagram-nya.

"Terima kasih kepada seluruh masyarakat Aceh atas perhatian, dukungan, dan doa untuk kami semua di cabang olahraga sepak bola," tulisnya di akun Instagram.

Sejatinya kejanggalan bukan itu saja. Jawa Timur (Jatim) juga selalu diuntungkan. Skuad Jatim sudah menjalani tiga laga. Uniknya, dari tiga laga itu, tim lawan selalu bermain dengan sepuluh orang. Artinya, selalu ada pemain lawan yang terkena kartu merah. Apakah itu kebetulan?

Pelatih Jatim Rudy William Keltjes menilai tim lawan memang layak mendapat kartu merah. Malah, saat melawan Sumatera Utara (4/10), seharusnya ada dua pemain mereka yang terkena kartu merah. "Pemain kami ini dilanggar keras," katanya kepada Jawa Pos.

Dikonfirmasi terpisah, pelatih Sumatera Utara (Sumut) Colly Misrun tidak menganggap kartu merah yang diterima anak asuhnya sebagai sebuah kejanggalan.

"Saya memang melihat pemain kami layak dikartu merah. Mereka dapat dua kartu kuning. Satu di antaranya karena protes kepada wasit. Itu (protes ke wasit, Red) jelas salah," terangnya kepada Jawa Pos.

Apalagi, dalam laga Jatim kontra Sumut, wasit yang memimpin adalah Fariq Hitaba. Dia adalah salah seorang wasit Liga 1. Selain itu, laga Jatim kontra Sulawesi Selatan (27/9) juga dipimpin wasit berkualitas, yakni wasit terbaik Liga 1 2018 Toriq Alkatiri.

Artikel Asli