Dishub Surabaya Optimistis Bayar Parkir Sistem QRIS Bisa Diterima

Nasional | jawapos | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 12:20
Dishub Surabaya Optimistis Bayar Parkir Sistem QRIS Bisa Diterima

JawaPos.com- Penerapan pembayaran parkir nontunai di Kota Surabaya, sejauh ini memang belum berjalan optimal. Namun, Dinas Perhubungan (Dishub) Pemkot Surabaya tak patah arang. Organisasi perangkat daerah (OPD) itu optimistis parkir berbasis QRIS bakal diterima pengguna jasa parkir.

Kasi Pengelolaan Parkir Dishub Surabaya Wandi Fauzi menjelaskan, penggunaan metode baru memang membutuhkan waktu. Tidak serta-merta mendapatkan respons positif. Sebab, pengguna akan melihat-lihat lebih dulu. Baru kemudian mencoba, katanya.

Sejak QRIS diluncurkan pada Juni, dishub telah gencar melakukan sosialisasi. Petugas turun ke sejumlah titik parkir untuk mengenalkan inovasi anyar tersebut. Langkah lain, dishub juga menetapkan delapan titik parkir sebagai pilot project. Selain itu, dishub membekali juru parkir (jukir) dengan kemampuan mengakses QRIS. Pelatihan telah berlangsung beberapa kali. Tujuannya, petugas semakin mahir.

Wandi mengakui, belum seluruh jukir dibekali alat QRIS. Sebab, ada petugas yang masih gagap teknologi. Belum lagi, jukir yang sudah tua. Karena itulah, adaptasi teknologi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan waktu. Kami terus berupaya meningkatkan kemampuan mereka, terangnya.

Kebiasaan baru, lanjut dia, memang perlu ditanamkan. Contohnya, pemakaian parkir meter. Metode itu hingga kini terpakai di sejumlah ruas jalan. Misalnya, parkir di Taman Bungkul dan Jalan Sedap Malam. Jukir sudah piawai menggunakan parkir meter karena terbiasa, jelasnya.

Sementara itu, pembayaran dengan metode QRIS turut diterapkan di moda transportasi umum. Dishub telah memulainya di Suroboyo Bus. Selain membayar dengan sampah botol plastik, penumpang bisa membeli tiket secara nontunai dengan metode QRIS.

Penerapan QRIS di Suroboyo Bus lebih mudah diterima. Dishub mencatat peningkatan penggunaan QRIS untuk pembayaran meski belum mengalahkan metode awal, yakni menyerahkan botol plastik. Setidaknya transaksi nontunai semakin populer.

Kepala UPTD Pengelolaan Transportasi Umum (PTU) Dishub Surabaya Frankie Yuanus menyatakan, metode pembayaran QRIS diterapkan di Suroboyo Bus sejak sebulan lalu. Penambahan alat bayar itu dilakukan untuk mendukung Surabaya sebagai smart city. Selama satu bulan, Frankie mencatat kenaikan penggunaan QRIS. Setiap hari pengguna QRIS terus bertambah. Mudah-mudahan ke depan naik terus, tuturnya.

Selain dengan QRIS, dishub berencana menambah metode pembayaran tiket Suroboyo Bus dengan sistem tapping. Penumpang cukup menempelkan kartu untuk membayar ongkos. Teknisnya sama dengan transaksi pembayaran jalan tol.

Jukir Butuh Waktu Adaptasi

Dalam satu hari, waktu Wachid banyak dihabiskan di jalanan. Lebih dari 10 jam dia berada di tepi jalan. Menunggu kendaraan yang hendak menepi. Terik matahari tak lagi dirasakan. Kulitnya seolah udah kebal.

Wachid bekerja sebagai juru parkir (jukir). Pekerjaan itu dijalani sejak tujuh tahun lalu. Senin hingga Minggu, pria 40 tahun tersebut bertugas di Jalan Kayoon. Dia memberikan aba-aba pada kendaraan yang hendak parkir. Juga melayani pengendara yang akan meninggalkan titik parkir.

Pada bulan tertentu, jam kerja Wachid bakal lebih panjang dari biasanya. Bahkan mencapai 15 jam. Misalnya, saat momen pernikahan. Kerjo isuk sampek bengi, ucapnya.

Selama bertugas, warga Genteng itu hanya melayani pembayaran parkir tunai. Warga yang hendak meninggalkan lokasi parkir ya harus menyerahkan uang. Sebab, itu merupakan wujud ganti pelayanan yang sudah diberikan.

Sejatinya, Wachid sudah mendengar sistem parkir anyar. Dinas perhubungan (dishub) memberlakukan parkir QRIS. Tujuannya, memudahkan jukir serta warga. Cukup pakai HP, scan barcode, parkir pun terbayar. Saya nggak paham, tuturnya sembari mengangkat pundak.

Selain belum memahami cara memakai QRIS, alasan lain Wachid tidak ingin membuat warga ribet. Menurut dia, parkir nontunai justru merepotkan pengendara. Mau bayar harus keluarkan HP. Sinyal HP juga munggah mudun. Durung nek parkir rame, keluhnya.

KATA MEREKA TENTANG QRIS

Versi Tukang Parkir

  • Takut alat (device) handphone untuk pembayaran digital lemot atau nge-hang karena beragam faktor. Salah satunya, sinyal.
  • Lebih banyak membutuhkan waktu untuk menyelesaikan pembayaran. Di sisi lain, pengguna parkir tidak hanya satu atau dua orang.
  • Membawa alat untuk pembayaran digital. Dikhawatirkan mengurangi gerak tukang parkir.
  • Pencairan dana tidak bisa instan dalam sehari. Berbeda dengan pembayaran cash.

Versi Dishub

Artikel Asli