Strategi WhatsApp Lawan Hoaks Lewat Pendekatan Kultural

Nasional | jawapos | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 11:49
Strategi WhatsApp Lawan Hoaks Lewat Pendekatan Kultural

JawaPos.com Hoaks masih menjadi salah satu tantangan terbesar bagi ketahanan digital nasional. Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, persebaran hoaks bukannya menurun malah makin menggila. Dan, menjadi masalah pelik yang dihadapi pemerintah bersamaan dengan upaya penanganan pandemi.

Penyebaran berita hoaks juga dalam konteks kesehatan. Menurut tenaga ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Devi Rahmawati di jumpa pers daring Selasa (5/10), hoaks tidak hanya seputar kesehatan tapi juga bisa berdampak pada kerusuhan sosial, kerugian ekonomi, dan bahkan kematian.

Sejak awal pandemi Covid-19, infodemik informasi palsu dan menyesatkan turut mewabah seiring dengan pandemi ini. Misinformasi telah menyebabkan kebingungan bahkan membuat orang menolak vaksin, mengabaikan protokol kesehatan masyarakat seperti memakai masker, menjaga jarak, hingga berobat dengan pengobatan yang tidak terbukti secara ilmiah.

Di sisi lain, berbagai upaya pemeriksaan fakta telah dilakukan oleh berbagai lembaga pengecek fakta dan Kemenkominfo untuk mengatasi penyebaran misinformasi. Namun, upaya ini belum memadai. Gerakan akar rumput untuk mengatasi masalah ini tetap harus diusahakan, khususnya di pelosok Indonesia.

Menjawab tantangan tersebut, 60 aktivis pemuda dari 28 provinsi maju menjadi agen perubahan melalui JaWAra Internet Sehat, sebuah gerakan pemuda nasional untuk melawan misinformasi yang dimulai sejak Agustus dengan dukungan penuh dari ICT Watch, Kominfo, dan WhatsApp.

Para JaWAra ini telah menunjukkan semangat mereka dalam menjalankan aktivisme digital dan menerima pelatihan untuk menginisiasi program literasi digital di wilayahnya masing-masing berbasis pendekatan kultural demi membantu komunitasnya menjadi warga digital yang bertanggung jawab.

Lewat gerakan JaWAra Internet Sehat ini, ICT Watch dan WhatsApp berusaha mengedukasi masyarakat tentang bahaya penyebaran berita hoaks melalui 60 relawan muda yang tersebar di 28 provinsi. Para aktivis yang tergabung memimpin lebih dari 100 sesi pelatihan lokal untuk melawan misinformasi selama pandemi dan juga membantu masyarakat meningkatkan keamanan digital dan privasi mereka.

Sejak diluncurkan pada 16 Agustus hingga 1 Oktober lalu, para JaWAra telah menjalankan 26 program dan lebih dari 50 kegiatan di lebih dari 50 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Seluruh JaWAra melalui beragam programnya telah secara keseluruhan memberdayakan sekitar 17.300 orang.

Program edukasi di level lokal disesuaikan dengan kebiasaan warga dan budaya setempat, sehingga berhasil melampaui target untuk memberdayakan lebih dari 15.000 orang, termasuk pemuda, orang tua, guru, masyarakat lokal, serta pelaku UKM, di seluruh daerah.

Walau fokus utama gerakan ini adalah mengatasi misinformasi, JaWAra Internet Sehat juga akan menjawab tantangan digital lainnya seperti privasi dan keamanan digital.

Selama pandemi, kami melihat percepatan penyebaran misinformasi dan tantangan privasi digital, hal ini sangat mempengaruhi ketahanan digital nasional yang dapat mengakibatkan kerusuhan sosial, konflik politik, serta kerugian ekonomi, ungkap Devie Rahmawati.

Di sisi lain, lanjut Devie, pihaknya percaya bahea kekuatan kultural, kedekatan masyarakat, dan keunikan adalah kunci keberhasilan untuk program-program pemberantasan hoaks di Indonesia.

Devie menambahkan, oleh karena itu, pihaknya sangat mengapresiasi program JaWAra Internet Sehat dengan beragam kegiatannya yang relevan dengan budaya dan kebiasaan lokal di tiap daerah. Dikatakannya, program ini terbukti secara nyata dapat menjangkau publik secara luas dan sejalan dengan program pemerintah untuk mengatasi man divide.

Lebih dari sekadar program untuk mendukung transformasi digital pemerintah, JaWAra Internet Sehat juga diadakan untuk menjawab tantangan yang sering dihadapi oleh pemerintah dan lembaga sipil.

Menurut Program Manager ICT Watch Indriyatno Banyumurti, selain keterampilan digital masyarakat Indonesia belum merata, ICT Watch juga melihat kurangnya program pendidikan yang secara khusus mengajarkan cara menangani misinformasi dan meningkatkan literasi digital.

Oleh karena itu, kami menginisiasi program ini untuk membantu menjembatani kesenjangan tersebut lewat pendidikan, membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk membangun literasi digital, serta inspirasi untuk dapat mengajari orang-orang di sekitar mereka, terangnya.

Program JaWAra Internet Sehat berfokus pada penanganan misinformasi, terutama terkait pandemi, tetapi Kominfo, ICT Watch dan WhatsApp berharap program-program para JaWAra dapat membawa perubahan yang berkesinambungan di antara masyarakat lokal.

Kami sangat antusias dapat berkolaborasi dengan anak muda se-Indonesia dalam mengatasi pandemi misinformasi, keamanan digital, dan isu privasi. Kami berharap JaWAra Internet Sehat, dengan fokus pada skala lokal dan inisiatif pendidikan yang komprehensif, akan menjadi batu loncatan besar untuk memajukan literasi digital di Indonesia, tegas Manajer Kebijakan Publik WhatsApp untuk Indonesia Esther Samboh dalam kesempatan yang sama.

Esther mengatakan melalui para JaWAra muda Internet Sehat, pihaknya berharap dapat menjangkau orang-orang lintas generasi untuk membawa perubahan positif pada pengalaman digital mereka.

Kami senang mengetahui bahwa program ini sepenuhnya sejalan dengan rencana pemerintah untuk transformasi dan pemberdayaan masyarakat digital. Selanjutnya, WhatsApp akan terus mendukung penuh inisiatif literasi digital lain dan upaya untuk melindungi keamanan digital masyarakat yang dicanangkan oleh pemerintah, tandasnya.

Artikel Asli