Tangan Dingin Suyanto Mengubah Wajah Kampoeng Sepoloh Krembangan

Nasional | jawapos | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 07:48
Tangan Dingin Suyanto Mengubah Wajah Kampoeng Sepoloh Krembangan

Sikap Suyanto berubah 180 derajat ketika menjabat ketua RT 10, RW 5, Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan. Bila dulu dicap sebagai biang kerok, Suyanto kini berubah menjadi penggerak warga. Kerja kerasnya membuat Kampoeng Sepoloh menjadi lingkungan yang bersih dan bebas dari aksi kriminalitas.

SEPTIAN NUR HADI, Surabaya

KAMPOENG Sepoloh terdapat di RT 10, RW 5, Jalan Gadukan Utara, Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan. Sepuluh tahun lalu kondisi lingkungan Kampoeng Sepoloh sangat mengkhawatirkan. Aksi kriminalitas kerap terjadi. Kemudian, tingkat kesadaran warga terhadap pelestarian lingkungan sangat rendah.

Warga dengan seenaknya membuang sampah sembarangan. Akibatnya, lingkungan menjadi sangat kotor. Penyakit kulit atau demam berdarah kerap menyerang warga setempat. Kampoeng Sepoloh bisa dibilang kampung bermasalah, kata Suyanto di Jalan Gadukan Utara Selasa (28/9).

Pada 2010, Suyanto ditunjuk warganya menjadi ketua RT 10. Bukan karena Suyanto memiliki prestasi atau merupakan warga yang baik. Justru sebaliknya. Ketika itu, Suyanto termasuk warga yang tidak tertib. Bisa dikatakan merupakan tim rusuh kampung.

Ketika ada masalah, Suyanto merupakan orang yang pertama dicari warga. Mereka mengira, Suyanto dan kelompoknya merupakan orang di balik permasalahan tersebut. Misalnya, adanya kelompok pemuda yang mabuk-mabukan minuman keras (miras).

Akibatnya, keributan kerap terjadi. Padahal, tidak semua masalah dilakukan olehnya. Meski sudah dicap buruk oleh warga, Suyanto masih memiliki batasan dalam bersikap.

Aksi kriminalitas tidak pernah dilakukannya. Karena dinilai pentolan geng, warga menunjuknya jadi ketua RT, ucap dia.

Meski berat, Suyanto tidak bisa menolaknya. Jabatan sebagai ketua RT pun diterimanya. Secara tegas, seluruh warga memintanya untuk bisa mengubah Kampoeng Sepoloh menjadi lebih baik.

Ketika itu, Suyanto mengajak teman-temannya untuk menjadi pengurus kampung. Mereka tidak boleh menolak. Semua teman satu kelompoknya harus mendukungnya. Tanpa kompromi. Ibaratnya, hijrah barengan, ujar Suyanto, lantas tertawa.

Setelah kepengurusan terbentuk, paguyuban dibuat. Paguyuban itu bernama Bekasaan (Beriman dengan Keadaan). Program pertama adalah membebaskan lingkungan dari aksi kriminal. Misalnya, perampasan, pencurian sepeda motor, dan transaksi narkoba.

Para pelaku kerap beraksi atau bersembunyi di lingkungan tempat tinggalnya. Itu disebabkan Kampoeng Sepoloh sangat dekat dengan area lokalisasi di Jalan Tambak Asri. Menciptakan lingkungan aman bukan suatu perkara susah.

Sebab, dia tahu di mana titik sumber masalahnya. Mulai siapa pelakunya, di mana tempat persembunyiannya, hingga kapan aksi kriminalitas tersebut terjadi. Tidak memerlukan waktu lama, situasi aman pun tercipta. Kriminalitas tak lagi terjadi.

Pelaku kriminal jadi takut beraksi di sini. Karena yang jaga enggak lain mantan preman. Jadi, secara otomatis lingkungan menjadi aman, kata pria kelahiran Surabaya, 5 April 1977, itu lantas tertawa.

Kemudian, Suyanto berfokus pada pemulihan perekonomian warga. Jika ada bantuan, pihaknya langsung mendistribusikan. Bahkan, panitia sering tidak kebagian. Semua bantuan diberikan kepada warga.

Upaya kerja kerasnya menuai hasil manis. Image buruk yang terdapat pada dirinya dan tim berhasil menghilang. Warga mulai percaya dan mau mendukung programnya.

Kepercayaan yang diberikan warga tak disia-siakan. Dengan kemampuan seadanya, Suyanto mengajak seluruh warga melestarikan lingkungannya. Yaitu, membuat Kampoeng Sepoloh menjadi lingkungan yang hijau, bersih, dan asri. Berbagai tanaman ditanam. Mulai tanaman hias hingga sayuran. Kini perwajahan Kampoeng Sepoloh sudah banyak berubah. Tanaman menghiasi perkarangan rumah warga.

Sampah tak lagi berserakan. Bersih dan asri. Meskipun terkepung area pergudagangan dan cuaca yang panas, berkat penghijaun Kampoeng Sepoloh tetap terasa sejuk.

Tidak sampai di situ. Boezem Morokrembangan dimanfaatkan untuk area budi daya ikan lele. Lebih dari 50 keramba tersedia. Pengelolanya warga.

Di tengah masa pandemi Covid-19, Suyanto mengaku budi daya ikan sangat memberikan dampak positif bagi warga. Sebab, tidak sedikit warga yang terdampak secara perekonomian. Dengan budi daya ikan lele, secara perlahan perekonomian mereka mulai pulih.

Ditambah lagi pembudidayaan sayuran dan tanaman hidroponik. Selain menjadikan lingkungan bersih, pengolahan hidroponik menambah penghasilan warga. Kemudian, menanam sayuran bertujuan untuk perbaikan gizi warga.

Artikel Asli