Nobel Kedokteran Diraih Peneliti Reseptor Suhu dan Sentuhan

Nasional | republika | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 07:23
Nobel Kedokteran Diraih Peneliti Reseptor Suhu dan Sentuhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- David Julius dan Ardem Patapoutian memenangkan Nobel Kedokteran 2021 atas temuan mereka terkait reseptor suhu dan sentuhan. Komite Nobel menilai temuan keduanya akan bermanfaat bagi pengembangan obat di masa depan.

Riset reseptor suhu dan sentuhan yang dilakukan David Julius dan Ardem Patapoutian mengantar dua ilmuwan biologi molekuler itu jadi pemenang Hadiah Nobel di bidang Kedokteran tahun ini.

Thomas Perlmann dari Komite Nobel menilai keduanya telah berhasil "membuka salah satu rahasia alam, yaitu tentang bagaimana manusia merasakan sesuatu di dunia, entah itu sentuhan, kedalaman, atau bahkan rasa sakit.

Banyak yang mengira hadiah Nobel tahun ini akan diraih oleh salah satu pembuat Vaksin COVID-19. Namun, menurut Perlmann, penemuan Julius dan Patapoutian adalah penemuan paling penting di dunia kedokteran pada tahun 2021.

Menurut komite Nobel di Stockholm, penelitian dasar dari kedua ilmuwan itu akan bermanfaat bagi pengembangan obat di masa depan.

Reseptor cabai merah pedas

David Julius berhasil meraih Nobel berkat penelitian dasarnya menggunakan Capsaicin, bahan kimia yang terkandung di dalam cabai. Alkaloid alami ini diduga menjadi penyebab terbakarnya' ujung saraf di lidah atau mata manusia ketika menyentuh cabai yang sudah dipotong.

Bahan kimia yang mengiritasi dan sensasi terbakar yang ditimbulkannya lantas digunakan Julius untuk mencoba mengindentifikasi sensor di ujung saraf kulit yang merespons panas.

Penelitiannya itu akhirnya mengarah pada penemuan TRPV1, sebuah saluran ion yang diaktifkan oleh panas yang menyakitkan.

Saluran ion merupakan protein yang memungkinkan ion seperti natrium, kalium, dan kalsium dapat melewati membran sel. Keberadaan kanal ion ini sangat penting untuk sistem saraf, kontraksi jantung dan otot rangka, dan fungsi fisiologis lainnya. Penelitian Julius ini pun memungkinkan kita untuk memahami rasa sakit sedikit lebih baik.

Artikel Asli