Karikaturis Lars Vilks Beda dengan Mr Bean

Nasional | republika | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 05:01
Karikaturis Lars Vilks Beda dengan Mr Bean

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ridwan Saidi, Politisi Senior, Sejarawan, dan Budayawan Betawi.

Dunia dikejutkan dengan kematian karikaturis Swedia Lars Vilks. Vilks pada tahun 2007 membuat sketsa Nabi Muhammad di atas tubuh anjing. Dunia Islam marah, bahkan milisi Islam ancam bunuh dia. Sejak itu kemana pun ia pergi dalam kawalan dua polisi.

Malam itu tanggal 3 Oktober 2021 ia dengan kawalan polisi hendak ke Stockholm selatan. Di sebuah ruas jalan 'two way trafic' terlihat truck bergerak berlawanan arah. Vilks, yang diduga pelaku pengendara, tiba-tiba berbelok masuk jalur truck.

Akibatnya, kedua kendaraan pun bertubrukan. Bahkan, tabrakan timbulkan kobaran api. Vilks dan dua polisi tewas di tempat. Sopir truck luka parah dan dilarikan ke rumah sakit.

Kepala Polisi Stockholm menilai ini kecelakaan yang paling aneh.

Anehkah?

1. Kecelakaan kecil kemungkinan karena sabotase. Mobil Vilks keluar jalur dan tabrak truck.

2. Kepolisian Swedia tak menjelaskan siapa pengemudi mobil. Kalau Vilks, kemungkinan besar ia bunuh diri. Hidup 14 tahun dalam kawalan dan selalu waswas. Kenapa di jalan raya?

Vilks jelas terlihat haus sensasi. Sudah 14 tahun lamanya dia 'bersembunyi'. Sketsa Nabi yang dia buat di atas tubuh anjing selain bertujuan menghina Tuhan, juga ada maksud sensasi.

Pada timeframe sama dengan berita kematian Vilks, tersiar (lagi) berita komedian Mr Bean masuk Islam. Berita ini pernah tersiar pada tahun 2013 dimana Mr Bean baru masuk Islam di tahun itu.

Berita ini timbulkan pro kontra karena sumber berita tak jelas. Mr Bean sendiri tak dapat dihubungi. Apa pun, ini berita bagus yang menyenangkan, seraya menunggu berita yang pasti.

Memang, hadap diketahui, para penghina Islam itu bukan cuma menghadapi manusia, tapi juga kekuatan langit. Semua ciptaan Tuhan itu berharga, termasuk al Hayaa , kehidupan.

Maka, jalanilah kehidupan sesuai dengan keyakinan agama dan kaidah penciptaan semesta alam: tafawuti wal futuri , yaitu berkeseimbangan dan pada fitrah.

Artikel Asli