Siasat Petani Muda Sriharjo Atasi Keterbatasan Lahan Pertanian

Nasional | koran-jakarta.com | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 00:02
Siasat Petani Muda Sriharjo Atasi Keterbatasan Lahan Pertanian

Ada nuansa keindahan dari hamparan sawah, kelok sungai, dan rimbun pohon yang menjalari perbukitan di Desa Sriharjo, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sayang, di balik itu, Kepala Desa Sriharjo, Titik Istiyawatun Khasanah, mengingatkan betapa menderitanya mayoritas warganya sebagai petani.

"Petani kan soko guru pertanian kita. Tapi, dukungan negara pada mereka masih kurang. Biaya produksi mahal, kepemilikan lahan sempit, jarang yang lebih dari 1.000 meter. Jadi, semua kategorinya buruh tani," katanya saat menerima Koran Jakarta , di Sekretariat Karang Taruna Tani Hijaunya Cinta, akhir September lalu.

Titik menghitung dengan luasan lahan 1.000 meter persegi yang ditanam komoditas padi, paling banter hanya menghasilkan 3,2 juta rupiah dari penjualan beras setelah panen setiap empat bulan. Dengan biaya produksi separuhnya, maka tersisa 1,6 juta rupiah atau hanya 400 ribu rupiah per bulan. "Itu belum menghitung tenaga, belum lagi kalau ada hama," tutur Titik.

Meski diakui, untuk mengerjakan lahan sempit tersebut, petani tidak membutuhkan waktu kerja sampai delapan jam sehari selama empat bulan. Waktu paling lama hanya di masa tanam, di hari lainnya, petani ke sawah hanya di pagi dan sore hari untuk mengecek pengairan.

"Jadi, masih ada waktu luang untuk berproduksi yang lain. Nah, inilah pentingnya kreativitas, dengan bantuan pendampingan Prof Sigit Supadmo Arif dari Universitas Gadjah Mada (UGM), kita dorong anak-anak muda untuk kreatif, menerapkan teknologi, dan juga mengembangkan wisata desa agar ada tambahan pemasukan," papar Titik.

Prof Sigit, sebut Titik, dalam beberapa tahun terakhir melakukan pendampingan di Desa Sriharjo.

Wisata Perdesaan

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Sigit Supadmo, kala menyambangi desa yang didampinginya mengisahkan situasi desa pada hari-hari ini berada dalam situasi yang tidak ideal, namun tetap ada peluang yang muncul dari tren wisata perdesaan. Gagasan Profesor Sigit sederhana, yakni bagaimana mengenalkan teknologi pada sektor pertanian sekaligus menghubungkannya ke pariwisata.

"Kita berikan pelatihan untuk petani muda bagaimana cara bercocok tanam komoditas hortikultura, perikanan, peternakan, dan bagaimana bisa menjualnya juga sebagai paket wisata," terangnya.

Menurut Sigit, anak-anak muda di perdesaan menghadapi pilihan untuk tetap tinggal di desa atau merantau ke kota. Jika pergi ke kota, ke Yogyakarta misalnya, mereka bisa menjadi buruh di pabrik, perhotelan, penjaga toko, dan pekerjaan-pekerjaan yang upahnya paling banter sesuai standar Upah Minimum Regional (UMR) berkisar 1,5 juta - 2 juta rupiah per bulan. Tapi dengan pendapatan itu, mereka harus mengeluarkan biaya untuk kos dan makan.

Sebaliknya, memilih bertahan di desa, mereka harus menghadapi kendala sempitnya lahan dan minimnya perputaran uang. Maka, tidak ada cara lain bagaimana bisa mengenalkan mereka pada teknologi tepat guna yang efisien sekaligus memacu kreatif penjualannya. Mereka bisa bercocok tanam sayuran tumpang sari, beternak kambing, kolam lele, dan juga terlibat di pariwisata.

"Menjual produk ini kunci yang bisa dikuasai anak-anak muda. Lewat digital, mereka bisa menjual sayur lebih mahal, begitu pula kepada para wisatawan yang memadati desa ini tiap akhir pekan," jelas Sigit.

Beruntung, Desa Sriharjo memiliki Anton, pemuda 31 tahun yang menjadi penggerak utama Taruna Tani Hijaunya Cinta. Anton sangat fasih bercerita kenyataan apa yang harus ia taklukkan.

Desa Sriharjo, jelasnya, dikepung Bukit Sriharjo dan Bukit Selopamioro yang didiami ribuan kera ekor panjang. Di antara bukit mengalir Sungai Oya yang indah sekali, namun menyimpan bahaya banjir bandang.

"Selain seperti kata Bu Kades, kami petani juga menghadapi tantangan serangan kera ekor panjang di musim kemarau dan produk impor, beruntung punya alam yang sangat indah," jelas Anton.

Berkat dukungan Ibu Kades, Taruna Tani yang dipimpinnya mendapat kepercayaan mengelola tanah 2.000 meter persegi persis di spot utama wisata Bukit Sriharjo. Hortikultura jadi pilihan karena panen cepat, bisa sepekan sekali panen. Beda dengan padi yang empat bulan panen dan bisa diserang monyet saat kemarau.

Dengan konsep Eco Wisata, Desa Sriharjo kini dikunjungi 2.500-an pesepeda pada tiap akhir pekan, mulai Jumat hingga Minggu.

"Kalau Anton bisa maksa 2.500 pesepeda itu beli sayur dan juga makan di sini rata-rata habis 50 ribu rupiah, sudah ada tambahan uang masuk 125 juta rupiah per pekan atau 500 juta rupiah sebulan," timpal Titik.

Mereka pun berharap ada kerja sama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Bantul untuk menyelesaikan masalah kera ekor panjang dan juga meningkatkan potensi wisata Sriharjo. "Kalau mereka punya lahan sayur sendiri, punya ternak dan bisa jualan paket wisata pertanian dan peternakan, maka tidak ada lagi pemuda yang meninggalkan desa," pungkas Sigit.

Artikel Asli