Pemulihan Ekonomi Paruh Kedua 2021 Tertahan

Nasional | koran-jakarta.com | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 00:03
Pemulihan Ekonomi Paruh Kedua 2021 Tertahan

JAKARTA - Pembatasan mobilitas masyarakat pada kuartal III-2021 dalam rangka pengendalian kasus Covid-19 dinilai akan berpengaruh pada pemulihan ekonomi yang tertahan pada paruh kedua tahun ini.

Bank Indonesia (BI) dalam Kajian Stabilitas Keuangan yang dipublikasikan di Jakarta, Selasa (5/10), menyebutkan kendati tertahan, namun bank sentral tetap optimistis pertumbuhan ekonomi di sepanjang tahun ini bisa tumbuh positif setelah koreksi 2,07 persen pada 2020.

Hal itu ditopang oleh relaksasi restriksi dan akselerasi vaksinasi, serta berlanjutnya stimulus kebijakan dari pemerintah, pembukaan sektor-sektor prioritas, dukungan ke Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta kinerja ekspor yang baik.

Otoritas moneter pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2021 berada di kisaran 3,5 hingga 4,3 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Menanggapi pernyataan BI itu, Pakar Sosiologi Ekonomi dari Universitas Brawijaya Malang, Imron Rozuli, mengatakan pembatasan yang dilakukan pemerintah terhadap aktivitas ekonomi masyarakat memang berdampak signifikan. Sebab, tumpuan aktivitas ekonomi berlangsung dari proses mobilitas manusia dan barang yang menurun.

"Meski beberapa sektor tumbuh seperti jasa pengiriman, namun tidak signifikan bagi penopang kinerja ekonomi. Apalagi, kondisi semester dua 2021 bisa dikatakan puncak pandemi. Pemerintah perlu mengubah arah kebijakan saat kondisi saat ini yang diharapkan sudah menuju herd immunity ," kata Imron.

Selain memerlukan stimulus, refocusing dan realokasi anggaran di pusat maupun di daerah harus menyasar sektor yang mengungkit aktivitas ekonomi seperti sektor pariwisata dan sektor primer.

PMI Berkontraksi

Sementara itu, Peneliti Ekonomi Core, Yusuf Rendi Manilet, mengatakan pemulihan yang tertahan sebenarnya sudah diproyeksikan sebelum pemerintah melakukan pengetatan mobilitas masyarakat. Pada saat yang sama, indikator Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur, indeks penjualan riil dan kepercayaan konsumen melambat. Akibat pembatasan, PMI pada Juli dan Agustus 2021 berkontraksi atau di bawah angka 50.

Indikator tersebut baru kembali ke level ekspansif atau di atas 50 pada September, setelah pemerintah melakukan relaksasi secara terukur.

"Pemerintah saat ini harus memastikan pengendalian kasus Covid-19 agar bisa memacu mesin ekonomi kembali pada kuartal IV," kata Rendi.

Artikel Asli