Koordinator Nol Sampah: Mikroplastik Galon Sekali Pakai Bahaya

Nasional | rm.id | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 00:31
Koordinator Nol Sampah: Mikroplastik Galon Sekali Pakai Bahaya

Koordinator Nol Sampah Wawan Some menyatakan, uraian atau luruhan mikroplastik dari galon sekali pakai berbahaya. Tidak hanya pada kesehatan mahluk hidup termasuk manusia, tapi juga bagi lingkungan.

Menurutnya, air dalam kemasan galon sekali pakai itu tidak bisa disimpan terlalu lama karena akan menyebabkan semakin banyaknya mikroplastik dari lapisan galon itu yang terlepas (luruh). Hal ini bisa menyebabkan penyakit kanker bagi yang mengkonsumsinya.

Kalau kita minum air galon sekali pakai yang tersimpan dalam waktu berhari-hari, maka semakin banyak mikroplastik dari lapisan galon yang lepas. Karena, dengan waktu yang lama itu akan ada juga pengaruh panas dan sebagainya yang akan membantu terlepasnya mikroplastik itu, sehingga menjadi sangat berbahaya jika diminum, katanya, dalam webinar soal plastik dengan media yang diadakan secara online, Selasa (5/10).

Karena itu, dia menyambut baik penelitian mikroplastik dalam galon sekali pakai yang dilakukan Greenpeace bersama Universitas Indonesia (UI) baru-baru ini. Saya sepakat dengan penelitian yang dilakukan rekan kami dari Greenpeace bersama UI. Karena Zero Waste Indonesia dan Greenpeace selalu mengkampanyekan pembatasan plastik sekali pakai ini, sambung Wawan.

Hasil pengujian mikroskopis yang dilakukan Greenpeace dan laboratorium kimia anorganik UI terhadap air galon sekali pakai memperlihatkan adanya kandungan mikroplastik dalam sampel. Kandungan mikroplastik dalam sampel galon sekali pakai ukuran 15 liter ditemukan sebanyak 85 juta partikel per liter atau setara dengan berat 0,2 mg/liter. Sementara, kandungan mikroplastik dalam galon sekali pakai ukuran 6 liter sebanyak 95 juta partikel/liter atau setara dengan berat 5 mg/liter.

Jenis mikroplastik yang ditemukan merupakan jenis plastik yang sama digunakan pada kemasan galon sekali pakai, yakni PET. Mayoritas bentuk partikel mikroplastik adalah fragmen, dengan ukuran yang berkisar antara 2,44 hingga 63,65 m.

Wawan menambahkan, penelitian yang dilakukan Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) memperlihatkan, sebanyak 80 persen ikan yang dikonsumsi di Indonesia itu sudah mengandung mikroplastik. Sampah plastik paling banyak yang ditemukan di sungai adalah kantung plastik dan popok.

Jadi, dampak plastik ini akan sangat berbahaya bagi kita. Karenanya, kami sangat mendorong pembatasan pemakaian plastik sekali pakai di masyarakat, jelas dia.

Sebenarnya, kata Wawan, sudah ada Permen LKH Nomor 75 tahun 2009 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Di sana diatur bagaimana industri mengelola sampah plastiknya sendiri. Ini seharusnya diperhatikan oleh semua industri yang harus bertanggung jawab mengelola sampah yang dihasilkan dari produk-produk kemasan plastik mereka, ucapnya.

Namun, produsen air kemasan galon sekali pakai belum melaporkan peta jalan pengurangan sampah mereka ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Apalagi, kata Wawan, angka daur ulang plastik di Indonesia itu sangat rendah. Baru di bawah 11 persen. Ini yang sangat memprihatinkan sekali. Makanya kita perlu mengurangi pemakaian plastik-plastik sekali pakai tadi, katanya.

Di acara yang sama, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait dengan tegas menolak semua bentuk kemasan plastik, termasuk galon sekali pakai. Karenanya, saya sekarang menggunakan stainless. Hal itu karena saya tidak bisa lagi memilah-milah produk plastik yang aman dan tidak, sehingga saya dengan menggunakan stainless menjadi aman. Saya di rumah memasak air. Lebih aman dan percaya dan terkonfirmasi jika menggunakan air tanah, katanya. [ SAR ]

Artikel Asli