Mengenal Obat Molnupiravir yang Menipu Covid-19 Agar Tak Bereplikasi

jawapos | Nasional | Published at Senin, 04 Oktober 2021 - 17:51
Mengenal Obat Molnupiravir yang Menipu Covid-19 Agar Tak Bereplikasi

JawaPos.com Amerika Serikat menemukan kandidat kuat obat Covid-19. Namanya Molnupiravir. Obat antivirus itu kini masih dalam tahap uji klinis tahap ketiga.

Para ahli pun angkat bicara mengenai kans obat ini untuk menyembuhkan Covid-19. Dalam kicauannya, Ahli Spesialis Penyakit Dalam yang juga Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban menyebut Molnupiravir sebagai si tukang tipu.

Calon obat oral pertama pasien Covid-19 dirancang menipu virus agar tak bereplika, katanya dalam kicauannya seperti yang dikonfirmasi JawaPos.com, Senin (4/10).

Profil Molnupiravir si tukang tipu:

-Calon obat oral pertama pasien Covid-19
-Dirancang menipu virus agar tak bereplika
-Kurangi risiko rawat inap dan kematian 50 persen
-Untuk pasien gejala ringan-sedang
-Berguna lawan Ebola, Chikungunya, Influenza
-Tunggu uji klinis tiganya

Zubairi Djoerban (@ProfesorZubairi) October 3, 2021

Menurutnya obat itu mengurangi risiko rawat inap dan kematian 50 persen serta untuk pasien gejala ringan-sedang. Obat itu berguna melawan Ebola, Chikungunya, Influenza.

Kini tunggu uji klinis tiganya, jelasnya.

Ahli lainnya Prof Tjandra Yoga Aditama yang juga Mantan Direktur WHO Asia Tenggara mengatakan sejak tahun yg lalu ada banyak dibicarakan tentang obat Covid-19. Ada berbagai obat yang tadinya dianggap menjanjikan, tetapi sesudah dilakukan penelitian mendalam, antara lain dalam bentuk Solidarity Trial WHO di puluhan negara maka obat-obat itu ternyata tidak terbukti memberi manfaat yang bermakna.

WHO secara rutin memperbarui rekomendasi pengobatannya berdasar bukti ilmiah terakhir. Pedoman pengobatan WHO terbaru adalah WHO Therapeutics and COVID-19: living guideline yang baru saja diterbitkan pada 24 September 2021, memberikan rekomendasi pada beberapa obat kombinasi antibodi monoklonal netralisasi yaitu casirivimab dan imdevimab, penghambat reseptor interleukin 6 yaitu tocilizumab atau sarilumab dan kortikosteroid.

Memang sudah banyak juga dilakukan penelitian untuk mendapatkan obat anti viral yang tidak perlu disuntik, dalam bentuk oral saja, kata Prof Yoga.

Lalu pada 1 Oktober 2021 perusahaan Merck dan Ridgeback mengumumkan hasil penelitian obat mereka, yaity Molnupiravir (MK-4482, EIDD-2801). Ini adalah obat antiviral yang dalam hasil penelitian interimnya menunjukkan penurunan sebesar 50 persen angka perawatan di rumah sakit serta juga mencegah kematian akibat Covid-19, pada pasien derajat ringan dan sedang.

Datanya menunjukkan 7,3 persen pasien (28 orang) yang mendapat molnupiravir (385 orang) dirawat di rumah sakit sampai hari ke 29 penelitian. Sementara itu, pada mereka yang tidak mendapat molnupiravir, artinya dapat plasebo saja (377 orang) ada 53 orang (14,1 persen) yang harus masuk RS, jadi sekitar dua kali lipat lebih banyak.

Selain data masuk RS, pada mereka yang tidak dapat molnupiravir ada 8 orang yang meninggal. Sementara yang dari yang mendapat molnupiravir memang tidak ada yang meninggal sampai hari ke 29 penelitian ini dilakukan.

Sample penelitiannya adalah Covid-19 ringan dan sedang, dengan onset gejala paling lama 5 hari. Hasil penelitian ini juga menunjukkan data pada 40 persen sampelnya bahwa efikasi molnupiravir adalah konsisten pada berbagai varian yang ditemukan, yaitu Gamma, Delta, dan Mu.

Artikel Asli