Studi Anyar Ungkap Ketahanan Perlindungan Vaksin Pfizer

republika | Nasional | Published at Senin, 04 Oktober 2021 - 15:57
Studi Anyar Ungkap Ketahanan Perlindungan Vaksin Pfizer

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang bertanya-tanya ihwal perlindungan vaksin berkurang terhadap Covid-19, terutama varian Delta. Terkait hal ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS telah menyetujui booster Pfizer untuk sebagian besar populasi yang sangat rentan terhadap Covid-19 parah, baik karena usia, kondisi yang mendasarinya, atau peningkatan paparan di lingkungan tempat tinggal atau kerja mereka.

Sebuah studi baru dari para peneliti di Stanford University, Emory University, University of Wisconsin, dan National Institutes of Health, telah dipublikasi di server pracetak bioRxiv pada 30 September lalu. Penelitian itu menunjukkan ihwal berapa banyak antibodi berkurang dari vaksin Pfizer, terutama terhadap Delta, dari waktu ke waktu. Untuk mencapai kesimpulan itu, para peneliti mengumpulkan sampel darah dari 46 penerima Pfizer yang sebagian besar berusia muda hingga paruh baya, setelah mereka divaksinasi selama tujuh bulan.

Mereka melihat respons antibodi penetralisir dan respons sel T pada peserta untuk melihat seberapa terlindunginya mereka terhadap varian tertentu yang menjadi perhatian, termasuk Delta, Beta (pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan), dan Mu (pertama kali terdeteksi di Kolombia). Pada 47 persen subjek, antibodi penetralisir yang dapat memblokir infeksi terhadap varian Delta tidak terdeteksi enam bulan setelah dosis kedua.

Meskipun antibodi penetralisir bukan satu-satunya pertahanan sistem kekebalan terhadap virus, para peneliti menunjukkan bahwa itu sangat penting dalam melindungi terhadap infeksi SARS-CoV-2. Faktor kunci lainnya adalah respon sel T, dan data menunjukkan bahwa sementara beberapa tingkat secara signifikan diturunkan dalam jangka waktu yang sama, yang lain tidak berbeda secara signifikan.

"Data ini menunjukkan penurunan substansial dari respons antibodi dan kekebalan sel T terhadap SARS-CoV-2 dan variannya, pada enam bulan setelah vaksinasi kedua dengan Pfizer, kata penulis dilansir Best Life , Senin (4/10).

Studi menunjukkan vaksinasi dengan vaksin Pfizer-BioNtech menginduksi antibodi penetralisir tingkat tinggi terhadap jenis vaksin asli, tetapi tingkat ini turun hampir 10 kali lipat dalam tujuh bulan setelah dosis awal. Peneliti Bali Pulendran dari Stanford University dan Mehul Suthar dari Emory University mengatakan, temuan itu menunjukkan bahwa pemberian dosis booster sekitar enam hingga tujuh bulan setelah imunisasi awal kemungkinan akan meningkatkan perlindungan terhadap SARS-CoV-2 dan variannya. Meskipun temuan ini mungkin tampak mengejutkan, itulah yang telah disiapkan Pfizer dengan boosternya.

CEO Pfizer Albert Bourla membahas studi yang didanai perusahaan, yang belum ditinjau oleh rekan sejawat untuk mengevaluasi kemanjuran vaksin Pfizer di antara lebih dari 44 ribu penerima di seluruh AS dan di negara lain. Setelah empat hingga enam bulan, Bourla mengatakan kemanjuran Pfizer sekitar 84 persen melawan gejala Covid-19, tetapi masih efektif 97 persen melawan penyakit parah.

"Kabar baiknya adalah kami sangat, sangat yakin bahwa dosis ketiga, booster, akan mengambil respon imun ke tingkat yang cukup untuk melindungi dari varian Delta," ujar Bourla.

Dalam keputusan persetujuan penggunaan darurat pada booster Pfizer, Food and Drug Administration (FDA) AS berbagi kesimpulan serupa tentang dorongan untuk dosis ketiga. Munculnya varian Delta SARS-CoV-2 yang sangat menular baru-baru ini menghasilkan gelombang baru kasus Covid-19 di banyak bagian dunia, dan menyebabkan pertimbangan untuk pemberian dosis booster kepada individu yang menerima seri vaksin primer dalam upaya meningkatkan kekebalan. Mereka memutuskan bahwa satu booster Pfizer harus diberikan setidaknya enam bulan setelah menyelesaikan seri dua dosis awal, rejimen yang kemudian dikonfirmasi oleh CDC.

Artikel Asli