Riset SETARA Institute Soal Calon Panglima TNI Jenderal Andika Ungguli Laksamana Yudo Dan Marsekal Fadjar

rm.id | Nasional | Published at Senin, 04 Oktober 2021 - 12:54
Riset SETARA Institute Soal Calon Panglima TNI Jenderal Andika Ungguli Laksamana Yudo Dan Marsekal Fadjar

Setara institute merilis hasil riset terbarunya mengenai "Catatan Kinerja Reformasi TNI 2021 dan Temuan Survei Opini Ahli tentang Kandidat Panglima TNI" yang digelar pada medio 20 September 2011 hingga 1 Oktober 2021.

Hasilnya, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa mengungguli Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono, dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Fadjar Prasetyo sebagai calon panglima TNI.

Ada beberapa indikator penilaian terhadap individu-individu calon Panglima TNI dalam riset Setara Institute ini, yaitu aspek integritas, akseptabilitas, kapabilitas, responsivitas dan kontinuitas.

"Rata-rata kami menemukan bahwa para ahli menilai bahwa Jenderal Andika itu unggul dibanding dua kandidat lainnya (Laksamana Yudo dan Marsekal Fadjar)," ujar Peneliti SETARA Institute, Ikhsan Yosarie, saat memaparkan hasil risetnya secara daring, Senin (4/10).

Pada aspek integritas, Jenderal Andika Perkasa meraih 7,84 persen. Sedangkan Laksamana Yudo 7,83 persen dan Marsekal Fadjar mendapatkan 7,70 persen.

Pada aspek akseptabilitas, Jenderal Andika Perkasa juga unggul dari Laksamana Yudo dan Marsekal Fadjar. Andika mendapatkan 8,04 persen, Yudo 7,78 persen, Fadjar 7,65 persen.

Jenderal Andika juga unggul pada aspek responsivitas dengan nilai 8,20. Sementara Laksamana Yudo 8,11, dan Marsekal Fadjar 7,99.

Begitu pun pada aspek kapabilitas. Jenderal Andika masih unggul dari Laksamana Yudo dan Marsekal Fadjar. Andika mendapatkan nilai 8,25, Yudo 8,15, dan Fadjar 8,03.

Namun, pada aspek kontinuitas, Jenderal Andika Perkasa kalah dari Laksamana Yudo. Soalnya, Laksamana Yudo masih memiliki waktu yang panjang jika menjadi Panglima TNI.

"Secara umum, Andika Perkasa mengungguli calon lainnya untuk 4 dimensi integritas, akseptabilitas, kapabilitas dan responsivitas. Sedangkan Yudo Margono unggul pada dimensi kontinuitas," beber Ikhsan.

Riset SETARA Institute ini menggunakan metode penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Metode kuantitatif dilakukan dalam bentuk survei menggunakan metode purposif (purposive sampling).

Survei ini dilakukan terhadap 100 ahli yang telah dipilih dan ditetapkan SETARA Institute dengan klasifikasi yang spesifik dan relevan dengan penelitian ini, yakni mereka ahli pada isu pertahanan dan keamanan (Hankam), serta Hak Asasi Manusia (HAM).

Ahli-ahli tersebut berasal dari akademisi kampus dan elemen masyarakat sipil (NGO/Ormas). Penelitian dilakukan 20 September 2021-1 Oktober 2021. [OKT]

Artikel Asli