Waduh, Stok Vaksin di Surabaya Raya Masih Menumpuk, PPKM Diperpanjang?

jawapos | Nasional | Published at Senin, 04 Oktober 2021 - 06:22
Waduh, Stok Vaksin di Surabaya Raya Masih Menumpuk, PPKM Diperpanjang?

JawaPos.com- Di tengah sejumlah negara situasi Covid-19 masih memburuk, kondisi Indonesia sejauh ini masih terus menunjukkan tren membaik. Hari ini (4/10) masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Jawa-Bali bakal berakhir sejak diperpanjang mulai 20 September 2021 lalu.

Dalam rentang waktu perpanjangan PPKM tersebut, pemerintah pusat terus memberikan tambahan kelonggaran. Mulai anak di bawah 12 tahun dapat masuk mal hingga pembukaan tempat wisata. Namun, dalam waktu dua pekan itu, pemerintah pusat juga meminta daerah-daerah menggenjot cakupan vaksinasi.

Kabupaten/kota yang ingin PPKM turun level, selain mengacu asesmen situasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), indikator lainnya adalah capaian vaksinasi. Untuk masyarakat umum harus lebih dari 50 persen. Lalu, vaksinasi untuk warga lanjut usia (lansia) harus di atas 40 persen.

Di Provinsi Jatim, sudah tidak ada lagi kabupaten/kota yang masuk dalam PPKM level 4. Berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 43 Tahun 2021, ada sebanyak 12 kabupaten/kota masuk PPKM level 2 dan 26 kabupaten/kota yang masih berada di level 3. Termasuk wilayah aglomerasi Surabaya Raya, yaitu Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik.

Apakah PPKM Jawa-Bali akan kembali diperpanjang dan Surabaya Raya bakal turun level? Tentu saja menunggu pengumuman lanjutan dari Presiden Joko Widodo atau Menko Luhut Pandjaitan.

Yang jelas, capaian vaksinasi di Surabaya Raya selama dua pekan terakhir memang terus meningkat. Tapi, sejauh ini, baru Surabaya yang sudah mencapai target herd immunity atau minimal 70 persen penduduk. Baik untuk suntikan dosis pertama maupun kedua. Sedangkan untuk Sidoarjo dan Gresik masih di bawah 70 persen.

Data dari dashboard Kemenkes RI sampai Minggu (3/10), untuk vaksinasi dosis pertama Surabaya sudah menembus 2,42 juta orang (109,27 persen) dan dosis kedua 1,64 juta orang (74,10 persen). Capaian vaksinasi untuk lansia di Surabaya juga sudah lebih dari 40 persen. Tepatnya, sudah menyasar 232.026 lansia (92,05 persen).

Adapun untuk Sidoarjo, cakupan vaksinasi dosis pertama telah mencapai 1,05 juta orang (65,18 persen) dan dosis kedua 520.443 orang (32,23 persen). Capaian vaksinasi untuk lansia dosis pertama baru menyasar 57.595 orang (38,63 persen). Artinya, masih belum memenuhi ketentuan sesuai Inmendagri 43/2021 yang minimal 40 persen.Dibandingkan data sepekan sebelumnya atau 27 September, capaian vaksinasi dosis pertama di Sidoarjo itu hanya meningkat 7,95 persen dan dosis kedua naik 13,18 persen.

Bagaimana dengan Gresik? Untuk vaksinasi dosis pertama kini sudah sebanyak 674.490 orang atau (66,67 persen) dan dosis kedua 253,446 orang (25,06 persen). Untuk sasaran lansia, vaksinasi dosis pertama juga belum mencapai 40 persen. Tepatnya, hanya 32.939 orang (30,23 persen). Dibandingkan data sepekan sebelumnya, capaian vaksinasi dosis pertama di Gresik ada peningkatan 4,22 persen dan dosis kedua hanya 1,6 persen.

Sementara itu, ternyata stok dosis vaksin di Surabaya masih menumpuk. Baik di Surabaya, Sidoarjo, maupun Gresik. Stok itu tidak lain selisih jumlah vaksin yang telah diterima dengan yang sudah disuntikkan ke sasaran di kabupaten/kota setempat. Padahal, vaksin tersebut ada masa kadaluwarsanya. Karena itu, vaksin bersangkutan mesti segera diserap atau dilimpahkan ke kabupaten/kota lain yang stoknya sudah menipis.

Berdasarkan data dashboard Kemenkes per 3 Oktober 2021, stok vaksin di Kota Surabaya ada sebanyak 165.839 dosis, Sidoarjo 339.347 dosis, dan Gresik 164.022 dosis.

Sebelumnya, dr Asluchul Alif MKes, praktisi kesehatan masyarakat alumnus Unair, menyatakan, antusiasme masyarakat dalam melaksanakan vaksinasi saat ini tidak seperti saat awal-awal program vaksinasi. Ada tren pelambatan. Salah satu penyebabnya antara lain persepsi bahwa pandemi Covid-19 ini telah membaik.

Padahal, faktanya masih belum. Bahkan, di banyak negara seperti Singapura dikabarkan melonjak lagi. Sejauh ini, setiap hari masih ada tambahan kasus positif Covid-19, termasuk di Surabaya Raya, walaupun tidak seperti saat lonjakan beberapa bulan lalu, kata Alif.

Karena itu, lanjut dia, pemerintah daerah mesti mencari cara atau strategi baru untuk melakukan percepatan vaksinasi. Misalnya, dengan membuat data dashboard di setiap desa. Data itu memotret warga sesuai nomor induk kependudukan (NIK) di setiap RT/RW yang belum vaksin. Lalu, mereka yang belum vaksin itu didatangi petugas untuk divaksin.

Kalau tersentral atau memakai pendaftaran online seperti dulu, rasanya akan sepi peminat, ungkapnya.

Artikel Asli