Patung dan James Bond

rm.id | Nasional | Published at Senin, 04 Oktober 2021 - 06:16
Patung dan James Bond

Peristiwa hilangnya patung Jenderal TNI AH Nasution, Mayjen TNI Soeharto, dan Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo sempat viral minggu lalu. Tidak pelak lagi diorama ketiga tokoh nasional penumpasan G30S/PKI yang sebelumnya terpajang di Museum Markas Kostrad hilang dan menimbulkan kegaduhan baru. Berbagai argumen muncul baik dari segi politik maupun larangan agama. Yang jelas, rakyat sudah jenuh dengan polemik yang sering terjadi saat ini. Di saat kita sedang bangkit menghadapi pandemi, bukannya kita bersatu padu malah saling menyalahkan.

Kalau yang hilang patung James Bond mungkin lain ceritanya, Mo, celetuk Petruk cengengesan. Tokoh James Bond yang selama ini diperankan oleh laki-laki rencananya diganti dengan peran wanita. Di tangan WallerBridge tidak ada yang tidak mungkin. Penulis sekaligus produser film Bond terbaru No Time to Die akan menghilangkan tokoh James Bond yang selama ini diperankan Daniel Craig.

Romo Semar tidak begitu tertarik mengikuti drama hilangnya patung maupun film James Bond. Semar memilih menikmati kopi pahit dan pisang rebus. Sekali-kali kepulan asap rokok klobot tingwenya membawa kenangan ke masa lalu. Romo Semar flashback ke zaman Ramayana di mana Resi Gotama seorang brahmana sakti dari pertapaan Dewasana tega mengutuk istrinya sendiri menjadi sebuah patung.

Kocap kacarito, Resi Gotama tidak dapat mengontrol amarahnya begitu mengetahui istrinya bermain api. Sebagai seorang brahmana tidak semestinya marah di depan anak-anaknya. Rupanya api cemburu sudah menguasai alam pikirannya. Sehingga keluar sumpah serapah terhadap Dewi Indradi. Sumber petaka berawal dari rebutan cupumanik antar anak-anak mereka sendiri. Dewi Indradi mendapat cupumanik atas pemberian Bethara Surya dewanya Matahari sebagai wujud kasih sayangnya. Dewi Indradi selama ini tidak berterus terang kepada suaminya.

Konon dari perkawinan Resi Gotama dan Dewi Indradi menurunkan tiga orang anak yakni Dewi Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa. Kelak Dewi Anjani melahirkan senopati tangguh yaitu Anoman. Sedangkan Guwarsi berganti nama Subali. Sedangkan Guwarsa menjadi panglima perang Prabu Rama dengan nama Sugriwa. Pada suatu hari Indradi memberikan cupumanik pemberian Dewa Surya kepada Dewi Anjani. Rupanya kedua saudaranya merasa iri melihat mainan kakaknya. Guwarsi dan Guwarsa mengadu kepada Resi Gotama tentang cupumanik. Melihat ada yang tidak beres, Gotama memanggil Dewi Indradi menanyakan dari mana asal cupumanik tersebut.

Dewi Indradi merasa berdosa dan takut karena selama ini tidak jujur kepada Gotama. Indradi memilih diam menghadapi kemarahan Resi Gotama. Karena merasa kesal tidak mau menjawab, Resi Gotama naik pitam dan mengutuk Dewi Indradi menjadi patung. Patung Dewi Indradi dilempar dan jatuh di kerajaan Alengka. Kelak Dewi Indradi dapat berubah wujud kembali setelah terjadi perang brubuh antara Prabu Rama dan Rahwana. Patung Indradi tersebut digunakan Patih Anila sebagai senjata untuk membunuh Patih Prahasta dari Alengka.

Patung Indradi jadi senjata ampuh, Mo. Jangan-jangan hilangnya patung tokoh nasional penumpasan G30S/PKI mau dijadikan senjata untuk menyerang lawan politik, sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. Semar memilih diam tidak serta merta menanggapi Petruk. Yang jelas ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari kejadian Resi Gotama dan Dewi Indradi. Kebohongan yang selama ini ditutupi oleh Dewi Indradi akhirnya menimbulkan bencana. Jawab Romo Semar. Selain itu perilaku Resi Gotama yang suka marah di depan umum tidak pantas menjadi contoh. Sebab keteladanan seorang pemimpin dapat dilihat dari perilaku dan tutur kata dalam menghadapi permasalahan. Oye

Artikel Asli