Loading...
Loading…
Teteskan Air Mata, Airlangga Kenang Ki Ageng Gribig

Teteskan Air Mata, Airlangga Kenang Ki Ageng Gribig

Nasional | jawapos | Jumat, 24 September 2021 - 12:52

JawaPos.com Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto tak kuasa menahan air mata saat menghadiri acara haul leluhurnya, yakni ulama besar Jawa bernama Ki Ageng Gribig pada Kamis (23/9) malam.

Airlangga mengenang sosok Ki Ageng Gribig sebagai seorang tokoh agama yang dikenal getol dalam mensyiarkan ajaran Islam di Tanah Jawa. Bahkan, makamnya hingga saat ini masih ramai dikunjungi para peziarah.

Ki Ageng Gribig atau yang bernama asli Wasibagno Timur adalah ulama besar yang menyebarkan Islam di Desa Krajan, Jatinom, Klaten dan sekitarnya. Ia juga dikenal masih keturunan dari Raja Majapahit, Brawijaya V, kata Airlangga dalam keterangan tertulisnya pada JawaPos.com, Jumat (24/9).

Menko Perekonomian itu juga menyebut, ketokohan dari seorang Ki Ageng Gribig itu harus menjadi contoh dari setiap umat muslim di Indonesia. Bahkan ulama yang merupakan cucu dari Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit itu merupakan seorang alim ulama yang terkenal dermawan dan tak pernah pelit untuk membagikan ilmu serta harta yang dimilikinya.

Saat hidup dia adalah menjadi amir tanah perdikan di Jatinom. Dia adalah penasihat spiritual Raja Mataram Sultan Agung. Atas jasanya Kiai Ageng Gribig dianugerahi putri adik sinuhun bernama Raden Ayu Mas sebagai istrinya, ujarnya.

Selain itu, dia juga diberi kebebasan untuk memilih rumah yang akan ditempati bersama keluargannya. Namun, karena sikap rendah hatinya yang selalu tertanam di dalam dirinya, akhirnya Ki Ageng Gribig memutuskan untuk tetap tinggal di Klaten.

Hanya saja Ki Ageng Gribig memilih tinggal di Klaten untuk mengerjakan kerja dakwah. Bahkan, Ki Ageng Gribig berhasil menjadikan Jatinom pusat penyebaran Islam di Jawa, kata dia.

Airlangga menyebut, Ki Ageng Gribig memiliki ciri khas dalam berdakwah dan hingga kini selalu dikenang oleh masyarakat di Klaten. Salah satu metodenya yaitu dengan membagikan kue dan sembari mengucapkan kalimat Ya Qowiyyu dan seterusnya, sebagai doa untuk meminta kekuatan kepada Allah.

Oleh masyarakat, kue ini kemudian dikenal dengan nama kue apem, saduran dari Bahasa Arab, Affan, yang memiliki makna dan filosofi sebagai permohonan ampunan kepada Allah. Tradisi inilah yang kemudian secara rutin dilaksanakan Ki Ageng Gribig, dan kemudian dilanjutkan pula oleh para muridnya dan masyarakat Jatinom sampai sekarang.

Dari penyebutan kata Ya Qowiyyu ini pula, tradisi Saparan di Jatinom juga disebut masyarakat dengan nama tradisi Ya Qowiyyu.

Peringatan Haul pada momen Saparan ini pula, kemudian pada perkembangannya sekaligus dilaksanakan beberapa rangkaian kegiatan seperti kirab budaya, lomba panahan, dan peringatan haul Ki Ageng Gribig.

Original Source

Topik Menarik