Etnis Hazara Curiga dengan Pemerintahan Taliban

Nasional | republika | Published at Selasa, 21 September 2021 - 11:22
Etnis Hazara Curiga dengan Pemerintahan Taliban

REPUBLIKA.CO.ID, QUETTA -- Ribuan masyarakat etnis Hazara melarikan diri ke Pakistan setelah Taliban menguasai Afghanistan. Banyak masyarakat Hazara yang tidak percaya pada pemerintah Taliban.

Selain itu masih kuat dalam ingatan mereka perlakuan pemerintahan Taliban pada 1996 hingga 2001. Seperti yang diingat mantan dosen di sebuah universitas di Kota Mazar-e-Sharif, Muhammad Ali Muhammadi.

"Kami dua bahaya pada kami, satu mengancam nyawa kami dan yang lainnya (bahaya) pengangguran, jadi tidak ada cara bagi kami untuk bertahan lebih lama," kata pria berusia 28 tahun itu seperti dikutip Aljazirah , Selasa (21/9).

"Saya masih kecil ketika Taliban berkuasa tahun 1996, peristiwa-peristiwa yang kami lihat pada zaman itu sangat-sangat buruk, saya tidak ingin anak-anak saya melihat hari-hari suram seperti itu," tambahnya.

Muhammadi mengatakan ia ragu Taliban memenuhi janji untuk membentuk pemerintahan yang inklusif dan menghormati hak-hak dasar. "Siapa yang ingin meninggalkan negaranya? Saya ingin kembali ke sana," kata Muhammadi.

"Namun kami tidak mempercayai pemerintah kami saat ini, kami tidak tahu kapan mereka mulai melakukan ketidakadilan lagi," tambahnya.

Hazara yang mayoritas penganut Islam syiah menjadi target pembantaian dan pengeboman Taliban selama puluhan tahun. Bulan Agustus lalu organisasi hak asasi manusia, Amnesty International menemukan Taliban membunuh sembilan orang Hazara saat merebut Provinsi Ghazni bulan Juli lalu.

Beberapa tahun terakhir kelompok teroris bersenjata ISIS juga mengincar etnis Hazara di Afghanistan. Sejak pemerintah Afghanistan ambruk bulan lalu badan pengungsi PBB (UNHCR) memperkirakan lebih dari 9.290 pengungsi Afghanistan yang tiba di Pakistan.

Sekitar 90 persen di antaranya datang melalui jalur selatan dengan melewati Kota Spin Boldak di Afghanistan dan Kota Chaman di Pakistan. Sekitar 30 persen diantaranya masyarakat etnis Hazara.

Namun pemerintah Pakistan mengatakan tidak sanggup lagi menampung pengungsi Afghanistan. Negara nuklir tersebut mengatakan sudah mendeportasi sejumlah pengungsi yang baru datang.


Etnis Hazara Curiga Dengan Pemerintahan Taliban

QUETTA--Ribuan masyarakat etnis Hazara melarikan diri ke Pakistan setelah Taliban menguasai Afghanistan. Banyak masyarakat Hazara yang tidak percaya pada pemerintah Taliban.

Selain itu masih kuat dalam ingatan mereka kejinya pemerintahan Taliban pada tahun 1996 hingga 2001. Seperti yang diingat mantan dosen di sebuah universitas di Kota Mazar-e-Sharif, Muhammad Ali Muhammadi.

"Kami dua bahaya pada kami, satu mengancam nyawa kami danyang lainnya (bahaya) pengangguran, jadi tidak ada cara bagi kami untuk bertahan lebih lama," kata pria berusia 28 tahun itu seperti dikutip Aljazirah, Selasa (21/9).

"Saya masih kecil ketika Taliban berkuasa tahun 1996, peristiwa-peristiwa yang kami lihat pada zaman itu sangat-sangat buruk, saya tidak ingin anak-anak saya melihat hari-hari suram seperti itu," tambahnya.

Muhammadi mengatakan ia ragu Taliban memenuhi janji untuk membentuk pemerintahan yang inklusif dan menghormati hak-hak dasar. "Siapa yang ingin meninggalkan negaranya? Sya ingin kembali ke sana," kata Muhammadi.

"Namun kami tidak mempercayai pemerintah kami saat ini, kami tidak tahu kapan mereka mulai melakukan ketidakadilan lagi," tambahnya.

Hazara yang mayoritas penganut Islam syiah menjadi target pembantaian dan pengeboman Taliban selama puluhan tahun. Bulan Agustus lalu organisasi hak asasi manusia, Amnesty International menemukan Taliban membunuh sembilan orang Hazara saat merebut Provinsi Ghazni bulan Juli lalu.

Beberapa tahun terakhir kelompok teroris bersenjata ISIS juga mengincar etnis Hazara di Afghanistan. Sejak pemerintah Afghanistan ambruk bulan lalu badan pengungsi PBB (UNHCR) memperkirakan lebih dari 9.290 pengungsi Afghanistan yang tiba di Pakistan.

Sekitar 90 persen diantaranya datang melalui jalur selatan dengan melewati Kota Spin Boldak di Afghanistan dan Kota Chaman di Pakistan. Sekitar 30 persen diantaranya masyarakat etnis Hazara.

Namun pemerintah Pakistan mengatakan tidak sanggup lagi menampung pengungsi Afghanistan. Negara nuklir tersebut mengatakan sudah mendeportasi sejumlah pengungsi yang baru datang.

Artikel Asli