Nasib Etnis Hazara Syiah yang Terlunta-lunta di Pakistan

Nasional | republika | Published at Selasa, 21 September 2021 - 09:30
Nasib Etnis Hazara Syiah yang Terlunta-lunta di Pakistan

REPUBLIKA.CO.ID, QUETTAMasyarakat etnis Hazara merasa terancam dengan pemerintahan Taliban. Feroza dan keluarganya yang anggota kelompok etnis terbesar ketiga di Afghanistan itu pun melarikan di ke Pakistan saat Taliban merebut kekuasan pada 15 Agustus lalu.

Dia menyaksikan kekejaman Taliban terhadap etnis Hazara saat kelompok itu berkuasa pada tahun 1996 hingga digulingkan Amerika Serikat (AS) pada 2001. Pada 14 Agustus lalu kelompok tersebut merebut Kota Mazar-e-Sharif dari pemerintahan yang diakui internasional.

Hazara yang mayoritas penganut Syiah menjadi target pembantaian dan pengeboman Taliban selama puluhan tahun. Bulan Agustus lalu organisasi hak asasi manusia, Amnesty International menemukan Taliban membunuh sembilan orang Hazara saat merebut Provinsi Ghazni bulan Juli lalu.

Beberapa tahun terakhir kelompok teroris bersenjata ISIS juga mengincar etnis Hazara di Afghanistan. Sejak pemerintah Afghanistan ambruk bulan lalu badan pengungsi PBB (UNHCR) memperkirakan lebih dari 9.290 pengungsi Afghanistan yang tiba di Pakistan.

Sekitar 90 persen diantaranya datang melalui jalur selatan dengan melewati Kota Spin Boldak di Afghanistan dan Kota Chaman di Pakistan. Sekitar 30 persen diantaranya masyarakat etnis Hazara.

Namun pemerintah Pakistan mengatakan tidak sanggup lagi menampung pengungsi Afghanistan. Negara nuklir tersebut mengatakan sudah mendeportasi sejumlah pengungsi yang baru datang.

"Saya menjadi tuna wisma dan datang ke sini, saya meminta pemerintah harus membantu kami dan membawa kami ke mana pun, kami tinggal di masjid, tidak memiliki pakaian, tidak memiliki selimut dan tidak memiliki apa-apa," kata Feroza seperti dikutip Aljazirah, Senin (20/9).

Feroza dan lebih dari 100 pengungsi lainnya tinggal di masjid Rizvia di Quetta, ibukota Provinsi Balochistan. Sekitar 100 kilometer dari kota perbatasan dengan Afghanistan, Chaman.

Puluhan keluarga tidur di atas karpet yang dibentangkan di tempat sholat. Tempat laki-laki dan perempuan dipisahkan dengan sekat. Ferozan dan pengungsi lain menceritakan pengalaman mereka melewati perbatasan, beberapa anak-anak bermain di sekitar mereka.

"Saya meminta pemerintah membantu kami, pegang tangan kami orang-orang miskin, harus berapa lama kami mengembara seperti ini, berapa lama kami akan menghadapi perang," kata Ferozan.

Pengungsi lainnya, Zakia yang berusia 40 tahun mengatakan perjalanan menuju Pakistan sangat mengerikan. Dalam kebingungan dan kelelahan ia kehilangan kontak dengan saudara laki-lakinya yang berusia 45 tahun di perbatasan.

"Ketika saya berhasil melewati perbatasan, saudara saya tertinggal di belakang, ketika ia terjadi saya menghabiskan satu malam di Chaman, saya tidur di atas atap sebuah toko karena tidak ada kamar dan ruangan," kata Zakia.

Setelah menunggu berjam-jam di tengah musim panas akhirnya Zakia dan tujuh anggota keluarganya terpaksa meninggalkan Chaman dan pergi menuju Quetta. Zakia yang keluarganya melarikan diri dari Kabul mengatakan masyarakat 'sangat takut' sangat Taliban merebut ibukota itu.

"Saya datang ke sini untuk kebaikan anak-anak saya, saya datang untuk pendidikan mereka, karena selama pemerintahan Taliban tidak ada pendidikan yang bagus yang bisa mereka pelajari dan tidak dapat pekerjaan (kerah putih)," tambahnya.

Suami Zakia, Safiullah yang berusia 43 tahun terluka saat masjid Syiah di Kabul diserang beberapa tahun yang lalu. Kini ia tidak bisa berjalan.

"Saya datang ke sini tanpa apa-apa, tidak ada penghasilan, piring, rumah, dan sewa juga sangat mahal dan saya tidak menyewa, saya bahkan tidak memiliki lantai," kata Safiullah.

Artikel Asli