Ilmuwan Ciptakan Cat Paling Putih di Dunia, Ke Depan Tak Perlu Lagi Pakai AC

Nasional | rakyatku | Published at Selasa, 21 September 2021 - 09:01
Ilmuwan Ciptakan Cat Paling Putih di Dunia, Ke Depan Tak Perlu Lagi Pakai AC

RAKYATKU.COM -- Para ilmuwan di Universitas Purdue telah menciptakan apa yang disebut sebagai cat paling putih di dunia.

Saking putihnya sehingga sifat-sifatnya dapat menghilangkan kebutuhan akan AC di masa depan.

Cat paling putih di dunia ini bisa melawan pemanasan global. Cat paling putih di dunia tersebut baru-baru ini dimasukkan dalam buku Guinness World Records.

Dalam sebuah pernyataan, Xiulin Ruan, seorang profesor teknik mesin di Purdue mengatakan bahwa ketika mereka memulai, tujuan mereka adalah menciptakan warna cat yang akan memantulkan sinar matahari dari sebuah bangunan. Di situlah semua warna putih masuk.

Dengan sifat reflektif yang fenomenal, cat paling putih di Bumi mampu memantulkan 98,1 persen radiasi matahari.

Cat putih juga mampu memancarkan panas inframerah. Apa artinya ini? Ini hanya menunjukkan sifat kuat dari cat paling putih yang pernah ada, yang memancarkan lebih banyak panas daripada yang diserapnya.

Intinya, permukaan apa pun yang dilapisi cat ini akan didinginkan di bawah suhu sekitar tanpa menghabiskan daya apa pun.

Ruan mengungkapkan kekuatan cat paling putih di Bumi ini melapisi area atap sekitar 1.000 kaki persegi dapat menghasilkan daya pendinginan senilai 10 kilowatt. Lebih kuat daripada kebanyakan AC rumah tangga.

Tertarik untuk menggunakannya? Tahan napas dahulu. Peneliti Purdue saat ini bermitra dengan sebuah perusahaan untuk menempatkan cat super putih di pasar.

Penawaran cat putih saat ini bekerja secara berbeda. Mereka menjadi lebih hangat bukannya menjadi lebih dingin. Sementara cat tradisional memantulkan 80 hingga 90 persen dari semua sinar matahari, tidak mampu menyediakan AC.

Apa yang membuat cat memiliki sifat yang sangat putih? Ini cukup sederhana --konsentrasi tinggi barium sulfat, senyawa kimia yang juga digunakan dalam kosmetik, bersama dengan ukuran partikel barium sulfat yang berbeda, kata para ilmuwan Purdue.

Artikel Asli