Trauma Direndahkan dan Harus Dikasihani saat Melamar Kerja

Nasional | jawapos | Published at Selasa, 21 September 2021 - 07:48
Trauma Direndahkan dan Harus Dikasihani saat Melamar Kerja

Penyandang disabilitas dan sejumlah komunitas difabel menceritakan kisah mereka dalam meniti karier. Berbagai usaha dilakukan mereka agar bisa bekerja secara profesional dan melawan keminderan.

HANAA SEPTIANA, Surabaya

SAYA sempat minder karena khawatir tidak bisa berbaur dengan nondifabel di tempat kerja, ujar Prita Intan Rahayu saat dihubungi Sabtu (11/9).

Dia adalah seorang penyandang disabilitas dwarfisme. Perempuan yang kerap disapa Intan itu menceritakan kisahnya dalam meniti karier. Dia mengaku sempat mengalami hambatan internal saat mencari kerja. Misalnya, kurang percaya diri dan kurang dukungan.

Intan merupakan lulusan S-1 komunikasi 2012. Ketika lulus, dia sempat ditawari pekerjaan sebuah perusahaan sebagai customer service di sektor pertambangan. Namun, tawaran itu ditolaknya. Sebab, orang tuanya tidak tega dengan keadaan fisik Intan. Dia pun tak menyerah. Intan tetap mencari kerja lagi dan mengikuti sejumlah pelatihan prakerja.

Beberapa kali mencari kerja, Intan merasa kurang percaya diri. Sebab, lingkungan kerja tampak tidak mendukung dan meremehkan dirinya. Ada pewawancara yang merendahkan saya. Itu membuat saya minder, ucap anggota Disabilitas Motor Indonesia (DMI) Surabaya itu.

Setelah melamar di berbagai instansi, perempuan 31 tahun tersebut diterima bekerja pada 2017. Yakni sebagai guru di sebuah sekolah swasta. Tetapi, kontrak kerja berakhir 2019 dan pihak sekolah tidak memperpanjangnya. Meski begitu, Intan tetap semangat mencari kerja lagi. Kini sembari melamar kerja, dia bersama ibunya mendirikan warung kopi.

Intan juga berharap bisa mengembangkan soft skill saat ini. Sebab, dia belum pernah menerima pelatihan di bidang tersebut. Misalnya, public speaking, membuat CV, dan pelatihan kepribadian, ucap alumnus Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur itu.

Kisah hambatan internal Intan itu juga dialami Danis Ade. Penyandang tunadaksa tersebut sempat mengalami depresi karena lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Itu membuat perempuan 29 tahun tersebut minder dan putus asa dalam meniti karier.

Danis pernah bekerja di kantor pada 2019. Namun, dia kerap menemui pimpinan yang selalu merendahkan dirinya ketika bekerja. Misalnya, meminta Danis menggunakan kursi roda ketimbang kaki palsu. Padahal, Danis sudah nyaman dengan alat bantu itu sejak kecil. Dia pun memutuskan untuk keluar dan belum mencari pekerjaan lagi di instansi formal hingga saat ini.

Masih trauma direndahkan, dinilai berbeda, dan dianggap difabel yang harus dikasihani, ucap alumnus S-2 Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga itu.

Hambatan internal penyandang disabilitas dalam meniti karier juga diakui sejumlah komunitas. Sebagian mengaku lebih nyaman berwirausaha daripada bekerja di instansi formal. Sebab, banyak instansi yang tidak bisa menerima penyandang disabilitas sepenuhnya. Misalnya, masih ada rasa iba dan kasihan kepada mereka.

Komunitas-komunitas difabel di Jawa Timur mengakui hambatan internal itu cukup banyak dirasakan anggota mereka yang penyandang disabilitas. Tidak heran, banyak penyandang disabilitas yang memutuskan berwiraswasta ketimbang bekerja di instansi formal.

Perwakilan Pertuni Jatim Alfian Andhika mengatakan bahwa faktor penyebabnya beragam. Mulai penerimaan, dukungan keluarga, hingga kemauan mengembangkan diri. Sebagian anggotanya juga dinilai memiliki kapasitas dan kompetensi yang rendah. Karena itu, komunitas menyiasati dengan sejumlah pelatihan yang kompleks. Misalnya, pelatihan kewirausahaan yang disisipkan dengan pelatihan pengembangan diri, ucap alumnus antropologi Universitas Airlangga itu.

Komunitas Renjana Inclusive yang bergerak di bidang inklusivitas juga mempunyai visi sama. Yakni agar difabel dan nondifabel bisa berbaur. Harapannya, nondifabel bisa peka terhadap keadaan dan kebutuhan difabel.

Artikel Asli