Sidang Perkara Eks Penyidik KPK Transaksi Suap Disamarkan Sebagai Pembayaran Konveksi

Nasional | rm.id | Published at Selasa, 21 September 2021 - 07:00
Sidang Perkara Eks Penyidik KPK Transaksi Suap Disamarkan Sebagai Pembayaran Konveksi

Mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ajun Komisaris Polisi (AKP) Stepanus Robin Pattuju menggunakan rekening orang lain untuk menerima suap. Transfer dana dalam jumlah besar disamarkan sebagai pembayaran konveksi.

Modus ini diutarakan Riefka Amelia, yang diminta membuat rekening untuk digunkana Robin. Riefka dihadirkan sebagai saksi pada sidang perkara Robin dan Maskur Husain.

Riefka menuturkan, sekitar bulan Juli 2020 diminta ibunya menuruti perintah kakaknya, Rizky Cinde Awaliyah teman dekat Robin supaya membuka rekening di Bank BCA.

Riefka sempat menanyakan kenapa bukan kakaknya saja membuka rekening di BCA. Ternyata kakaknya sudah memiliki tiga rekening di bank ini.

Akhirnya Riefka menuruti keinginan kakaknya yang disampaikan lewat ibunya. Dia pun membuka rekening di BCA. Meski sudah punya rekening.

Riefka tak menanyakan lebih jauh untuk apa pembukaan rekening ini. Saya buka (rekening) di Bank BCA Cabang Pembantu Pondok Gede atas nama saya, tuturnya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Setelah rekening dibuat, kartu ATM-nya diserahkan ke kakaknya lalu dipegang Robin. Riefka masih diminta mendaftarkan rekening ini di aplikasi mobile banking atau m-banking.

Atas jasanya ini, Riefka mendapatkan imbalan. Diberikan tunai Rp 2 juta dan ditransfer ke rekening suami saya Rp 77,5 juta, kata Riefka.

Riefka beberapa kali disuruh melakukan transaksi dengan m-banking. Atas perintah terdakwa (Robin), tudingnya.

Riefka mengungkapkan jika transaksi lewat m-banking disamarkan sebagai pembayaran pembelian barang konveksi. Begitu perintah kakaknya mengikuti arahan Robin.

Menurut Robin, alasan ini menghindari pertanyaan bank mengenai transfer dana yang nominalnya sangat besar. Saya kurang tahu apakah ada usaha konveksi atau tidak, ungkap Riefka.

Setelah digunakan transaksi, Riefka diminta kakaknya untuk memblokir rekeningnya pada 21 April 2021. Dia tidak bertanya alasannya.

Riefka kemudian menelepon call center BCA untuk memblokir rekening. Alasannya kartu ATM hilang.

Selain itu, Riefka diminta meninggalkan rumah untuk sementara. Tapi yang memberi perintah bukan kakaknya.

Saya di- chat oleh Dewa, saya kurang tahu siapa. Dia hanya chat sekali untuk pergi dahulu meninggalkan rumah begitu saja, pungkas Riefka.

Diketahui, AKP Robin didakwa menerima suap sebesar Rp 11.025.077.000 dan 36.000 dolar AS atau setara Rp 513 juta terkait penanganan perkara di KPK.

Aksinya menangguk keuntungan dari pihak beperkara ini dilakukannya bersama rekannya Maskur Husain, seorang advokat.

Jaksa KPK menguraikan, Robin menerima uang dari Wali Kota nonaktif Tanjungbalai, M Syahrial sebesar Rp 1,69 miliar. Kemudian, Rp 3 miliar dan 36.000 dolar Amerika dari Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin dan mantan Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), Aliza Gunado.

Berikutnya, Robin menerima Rp 507 juta dari Wali Kota Cimahi nonaktif Ajay Muhammad Priatna. Dari terpidana mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari Rp 5,1 miliar.

Terakhir dari Direktur PT Tenjo Jaya, Usman Effendi Rp 525 juta. Sebagian uang itu diterima melalui rekening Riefka. [BYU]

Artikel Asli