Kota Surabaya Belum Aman karena Aglomerasi Surabaya Raya Masih Level 3

jawapos | Nasional | Published at Kamis, 16 September 2021 - 15:22
Kota Surabaya Belum Aman karena Aglomerasi Surabaya Raya Masih Level 3

JawaPos.com Asesmen situasi Covid-19 di Kota Surabaya menunjukkan angka yang berbeda. Menurut Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri), Kota Surabaya dinyatakan masuk level 3 atau zona risiko sedang. Artinya, Kota Surabaya masih harus mengikuti Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Level 3.

Sementara itu, menurut kementerian kesehatan (kemenkes), Kota Surabaya masuk level 1 atau risiko terkendali. Perbedaan situasi itu diakui epidemiolog Universitas Airlangga Windhu Purnomo karena beberapa hal.

Yang paling mempengaruhi adalah hospitalisasi atau sistem rawat inap pasien. Hospitalisasi adalah angka pasien yang dirawat, dibagi jumlah penduduk Surabaya. Nah ini angkanya masih besar karena dipengaruhi pasien warga luar Surabaya. Di Jatim, kita pusat rujukan. Banyak pasien rujukan di sini, beber Windhu, Kamis (16/9).

Windhu juga menegaskan, Surabaya tidak aman selama wilayah aglomerasi Surabaya Raya masuk kategori risiko tinggi.

Wilayah aglomerasi adalah beberapa wilayah kabupaten/kota yang saling berdekatan dengan mobilitas warga yang cukup tinggi. Wilayah aglomerasi Surabaya, awalnya hanya mencakup Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Lamongan. Namun, menurut Windhu, seharusnya wilayah aglomerasi dihitung berdasar istilah Gerbangkertasusila.

Yakni Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan. Bangkalan vaksinnya masih 17 persen. Kita sudah berhasil, vaksin sudah 100 persen, tapi jangan los dol (bebas). Nanti bahaya. Karena dari wilayah aglomerasi kita belum aman, beber Windhu.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan, Surabaya masuk level 1 berdasar 6 inidikator. Di antaranya adalah proses 3T atau tracing, testing , dan treatment .

Dari hasil asesmen Surabaya sudah level 1 berdasar 6 indikator. Kita sudah memadai. Seperti 3T. Positivity rate yang harusnya di bawah 5 Surabaya sudah 0,4, terang Eri pada Kamis (16/9).

Terkait BOR atau bed occupancy rate / ketersediaan tempat tidur, Surabaya sudah di angka 14 persen. Menurut standar kementerian kesehatan di angka 60 persen.

Tracing yang harusnya 1 banding 14, kita 1 banding 20. Angka kematian yang harusnya di bawah 1, kita 0,6 per 1.000 penduduk per 1 minggu. Rawat inap di bawah 5, kita 3,6. Angka konfirmasi di bawah 20, kita 8, papar Eri.

Saat ini, pencapaian vaksinasi di Surabaya untuk dosis 1 sudah di angka 100 persen. Untuk dosis 2, sebanyak 65 persen. Bisa bantu lah untuk aglomerasi. Ada keterganungan aglomerasi, harus saling bantu. Jangan mementingkan diri sendiri. Ini demi umat, ucap Eri.

Artikel Asli