Konsep Subholdingnya Jalan, Erick Thohir Banggakan Pertamina dan PTPN

jawapos | Nasional | Published at Kamis, 16 September 2021 - 14:29
Konsep Subholdingnya Jalan, Erick Thohir Banggakan Pertamina dan PTPN

JawaPos.com Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyebut, beberapa terobosan di tubuh perusahaan pelat merah memperlihatkan hasil memuaskan. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mencontohkan, seperti hasil restrukturisasi PT Pertamina beberapa waktu lalu melalui subholding.

Hasilnya sudah terlihat, kalau kita lihat kemarin bagimana Pertamina setelah kita lakukan konsolidasi itu kita bisa lihat sub-sub holdingnya sudah menghasilkan dengan baik, ujarnya secara virtual, Kamis (16/9).

Menurutnya, transformasi yang terus dilakukan Kementerian BUMN sudah membuahkan hasil. Salah satunya, keberhasilan Pertamina dalam menemukan sumber gas dan minyak.

Selama ini kita kekurangan, penemuan sumber gas dan minyak setelah dikonsolidasi kita dapat temuan baru 204 juta barrel. Dan yang terpenting hulu sekarang untung USD 1 miliar, di atas target jauh, ungkapnya.

Erick melanjutkan, Subholding Refinery and Petrochemical juga mencatatkan kinerja keuangan yang baik dengan mencatat laba pada semester pertama sebesar USD 322 juta. Padahal, tadinya subholding ini menjadi beban.

Tadinya menjadi beban, sekarang untung USD 322 juta, ucapnya.

Selain itu, kemajuan subholding lainnya juga terlihat seperti PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang membuktikan keuntungan setelah dilakukan efisiensi yang luar biasa setelah mengalami kerugian. Awalnya ditentang tapi hari ini bisa membuktikan refinery-nya itu Rp 23 triliun sekarang, naik 19 persen. Bottom line-nya yang diprediksi rugi Rp 1,4 triliun sekarang untung Rp 1,2 triliun, imbuhnya.

Erick menekankan, BUMN tidak mengenal konsep superholding namun holding klasterisasi yang mengharuskan terjadi manajemen rantai pasok (supply chain). Menurutnya, BUMN perlu menyeimbangkan berapa produksi dalam negeri dan porsi impor.

Itu sejak awal saya bersama Mendag ini ada ekosistem baru. Saya yakin Pak Mendag background-nya bukan yang senang impor, tetapi data harus disamakan, pungkasnya.

Artikel Asli