Biografi Singkat Supriyadi, Tokoh Pembela Tanah Air terhadap Jepang

limapagi.id | Nasional | Published at Kamis, 16 September 2021 - 13:20
Biografi Singkat Supriyadi, Tokoh Pembela Tanah Air terhadap Jepang

LIMAPAGI - Biografi singkat Supriyadi, beliau merupakan sosok Pahlawan Nasional Indonesia serta pernah memimpin pasukan PETA dalam melawan penjajah Jepang.

Supriyadi lahir di Trenggalek, Jawa Timur pada 13 April 1923. Beliau lahir dari pasangan Raden Darmadi dan Raden Roro Rahayu.

Berikut ini tim Limapagi akan membahas tentang sejarah serta biografi mengenai tokoh Pahlawan Nasional yang sangat berjasa bagi Indonesia.

Biografi Singkat Supriyadi

(wikipedia) Supriyadi

Supriyadi memiliki nama lahir yaitu Sodancoh Soeprijadi, ibunya yang bernama Raden Roro Rahayu meninggal saat usia Supriyadi masih kecil.

Setelah kematian sang ibu, Supriyadi diasuh oleh ibu tirinya yang bernama Susilih. Ayahnya, pada saat itu sebagai Bupati Blitar setelah Indonesia merdeka.

Pada tahun 1943, Jepang mendirikan sebuah organisasi bernama PETA (Pembela Tanah Air) yang terdiri dari pemuda Indonesia untuk melawan sekutu, Supriyadi ikut dalam organisasi tersebut.

Biodata Supriyadi

Nama Sodancoh Soeprijadi
Panggilan Supriyadi Tempat dan Tanggal Lahir Trenggalek, Jawa Timur, 13 April 1923 Wafat Menghilang pada 14 Februari 1945 Agama - Orang Tua

Ayah: Raden Darmadi

Ibu: Raden Roro Rahayu

Pasangan - Anak - Gelar Pahlawan Nasional

Masa Kecil dan Pendidikan Supriyadi

Pendidikan pertama yang dijalani oleh Supriyadi yaitu di Europeesche Lagere School (ELS), yang setara dengan Sekolah Dasar pada zaman Hindia-Belanda.

Setelah lulus, ia melanjutkan lagi pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setara dengan Sekolah Menengah Pertama.

Tidak berhenti di sana saja, lalu Supriyadi melanjutkan lagi pendidikannya tersebut ke Middelbare Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (MOSVIA), sekolah untuk kaum bangsawan.

Namun, pendidikannya di MOSVIA tidak berjalan mulus. Ketika ia bersekolah di sana, Jepang datang untuk menduduki Indonesia.

Supriyadi sebagai Anggota PETA

Pada akhirnya, ia kemudian pindah di Sekolah Menengah Tinggi (Sekolah Pamong Praja) di Magelang. Setelah itu, ia pergi ke Tangerang untuk ikut pelatihan militer yang diadakan oleh Jepang.

Kemudian, pada Oktober 1943 Jepang membuat pasukan bernama PETA (Pembela Tanah Air) dan beranggota pemuda-pemuda Indonesia.

Saat itu Supriyadi tergabung dalam pasukan PETA dan diangkat menjadi Komandan Peleton. Ia ditugaskan untuk mengawasi para pekerja romusha di Blitar, Jawa Timur.

Setelah melihat para pekerja tersebut, ia tidak tega dan mulai berpikir untuk memberontak kepada Jepang.

Kejadian tersebut terjadi pada Februari 1945 sebagai Peristiwa Pemberontakan Pembela Tanah Air.

Peristiwa Pemberontakan di Blitar

(isyf) Pemberontakan PETA di Blitar

Setelah melihat kejadian tersebut, Supriyadi mulai melakukan pergerakan untuk merencanakan pemberontakan.

Saat itu, Soekarno sedang berkunjung ke Blitar untuk mengunjungi orang tuanya dan salah satu pasukan PETA memberi tahunya, bahwa mereka sedang merencanakan pemberontakan.

Soekarno hanya menasihati mereka agar tahu bagaimana nanti akibatnya. Namun, Supriyadi tetap teguh pada pendiriannya tersebut dan ia yakin bahwa rencananya akan berhasil.

Akhirnya pada 14 Februari 1945 pukul 03.00 dini hari, Supriyadi yang memimpin pemberontakan tersebut mulai melakukan aksinya.

Namun sayangnya, Jepang berhasil menghentikan pemberontakan tersebut dan beberapa orang tertangkap dan dihukum mati.

Saat itu Supriyadi tidak dihukum mati, karena ia berhasil kabur dan bersembunyi. Setelah kejadian tersebut, tidak terdengar lagi kabar dari Supriyadi.

Akhir Hayat Supriyadi

Setelah kejadian tersebut, pada September 1945 setelah kemerdekaan, Supriyadi diangkat sebagai Menteri Keamanan Rakyat.

Namun tidak ada kabar dan ia menghilang, akhirnya digantikan oleh Imam Muhammad Suliyoadikusumo.

Kemudian ia dinyatakan meninggal pada 9 Agustus 1975. Sebagai penghormatan, Supriyadi dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional pada 9 Agustus 1975 berdasarkan Surat Keppres No. 063/TK/1975.

Artikel Asli